RADAR BOGOR - Kota Bogor menyimpan cerita panjang pelaksanaan salat idul fitri di tanah lapang.
Sebelum digandrungi umat muslim, praktek peribadatan di luar masjid ini rupanya sempat menjadi cemooh warga Kota Bogor.
Sejarawan Islam Kota Bogor, Abdullah Batarfie menyebut bahwa semula praktek ibadah tersebut dianggap tidak lazim oleh warga pribumi. Bahkan kerap diinilai bagian dari pelakasanaan bidah.
Abdullah mengatakan salat idul fitri di tanah lapang pertama kali dilakukan pada tahun 1950. Ini diinisiasi oleh orgnaisasi islam Al Irsyad Cabang Bogor, bersama Persyarikatan Muhammadiyah dan Jam'iyyah Persatuan Islam.
“Lokasi pertamanya di Lapangan Sempur, saat itu imam dan khatibnya Ustadz Atmawidjaja. Dicemooh karena dibilang gapernah dilakukan oleh nabi,” jelas Abdullah pada Radar Bogor.
Salat Idul Fitri di tanah lapang adalah bagian dari stretgi menyebarkan dan memurnikan ajaran Islam. Meski dibilang tak sesuai, namun mereka menyakini praktek ibadah tersebut tekah sesuai dengan Rasulullah
Mereka meyakini bahwa shalat di lapangan terbuka sudah sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah. Sehingga praktek ibadah itu dinilai sama seperti pelaksanaan di dalam masjid.
Namun pada tahun 1960 an, terjadi gejolak politik di Indonesia yang menyasar hingga ke Kota Bogor.
Sehingga untuk menjaga keamanan, salat Idul Fitri yang biasanya dilaksanakan di Lapangan Sempur dipindahkan ke halaman Istana Bogor.
“Tapi rupanya justru jemaahnya tambah membeludak bukan cuma dari tiga organisasi tadi saja, tapi dari berbagai lapisan masyarakat, hingga kemudian dipindah lagi ke Institut Pertanian Bogor dekat Botani,” terang Abdullah, Jumat (28/3/2025).
Animo masyarakat yang memebeludak ini berhasil menuai sororotan dari berbagai pihak. Bahkan sekira di tahun 1970 hingga 1980 para khotib sholat Idul Fitri berasal daei tokoh muslim terkemuka.
Mayoritas yang hadir berasal dari ulama besar Masyumi, seperti halnya, KH Soleh Iskandar, KH Toebagoes Hassan Basri, hingga KH Siddiq Atmawidjaja.
Selepas salat idul fitri, Abdullah menerangkan biasanya para jemaah menyambangi tugu kujang.
Mereka banyak melakukan kegiatan disana, yang paling diincar yakni bersua foto.
“Kini penyelenggaraan salat Idul Fitri di tanah lapang semakin meriah, dengan lokasinya tersebar di hampir setiap sudut dan tidak lagi menjadi persoalan klasik yang mengundang polemik,” pungkasnya.(rp1)
Editor : Alpin.