RADAR BOGOR – Peringatan Hari Kartini tahun ini dimaknai berbeda para anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor.
Mereka berkolaborasi dengan Dharma Wanita PDAM Tirta Pakuan untuk panen padi.
Mereka terjun langsung ke sawah untuk melakukan panen padi organik di kawasan pertanian Aewo, Kelurahan Mulyaharja, Bogor Selatan, Senin (21/4/2025.
Ketua DWP DKPP Kota Bogor, Debbyla Chusnul, menyebutkan panen dilakukan di lahan padi organik seluas 3 hektare dari total luas sawah 23 hektare yang dikelola.
“Hari ini yang dipanen baru sekitar 1 hektare. Panen masih akan dilanjutkan bertahap,” jelasnya.
Padi organik di Mulyaharja telah bersertifikasi sejak 2015. Hasilnya dijual dalam bentuk beras dengan harga mencapai Rp20.000 per kilogram—dua kali lipat lebih tinggi dibanding harga beras biasa di pasaran.
“Karena tanpa bahan kimia dan pestisida, kualitasnya lebih sehat dan bernilai ekonomi tinggi,” tambah Debbyla.
Ia menuturkan, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan potensi pertanian lokal kepada para anggota Dharma Wanita.
Apalagi sebagian besar belum pernah mengunjungi Mulyaharja.
“Saya ingin ibu-ibu mengenal langsung potensi pertanian Kota Bogor, agar bisa ikut menyebarluaskan ke masyarakat luas,” katanya.
Keterlibatan Dharma Wanita PDAM Tirta Pakuan dalam kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi lintas unit. Sebab biasanya PDAM tidak ikut kegiatan pertanian.
"Saya ajak mereka untuk belajar langsung dan merasakan pengalaman panen. Harapannya ke depan bisa kolaborasi juga dengan unit lain, seperti bidang perikanan,” ujarnya.
Di momen Hari Kartini ini, Debbyla juga menekankan pentingnya semangat emansipasi perempuan yang tetap berpijak pada nilai-nilai keluarga.
Perempuan bisa ikut serta dalam pembangunan, termasuk di sektor pangan tanpa melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
Ia menyebut, konsep ‘Kartini Tani’ yang diusung kali ini menjadi simbol perempuan bisa berdaya, produktif, dan ikut menjaga ketahanan pangan tanpa meninggalkan perannya dalam rumah tangga.
Istri Wali Kota Bogor, Yantie Rachim, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi pelibatan perempuan dalam urusan pangan.
Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keberlanjutan kawasan pertanian di Mulyaharja.
“Tempat ini sempat ramai waktu kunjungan Pak Mendagri. Tapi belakangan agak kurang diperhatikan. Sekarang harus kita bangkitkan lagi,” ujarnya.
Yantie juga menyoroti perlunya perawatan dan peremajaan beberapa fasilitas di kawasan tersebut, termasuk kafe kopi dan spot-spot foto yang mulai usang.
“Perlu direnovasi agar tetap menarik dan aman untuk pengunjung. Kayu-kayunya sudah termakan usia,” tuturnya.
Ia berharap kawasan pertanian ini bisa menjadi pusat edukasi yang menarik bagi masyarakat sekaligus daya tarik wisata lokal.
“Dengan daya tarik seperti kafe dan spot foto, orang akan datang. Tapi tetap harus dijaga dan dirawat,” katanya. (uma)
Editor : Alpin.