Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Nyeri Pinggang Hebat hingga Urin Keruh Bisa jadi Batu Saluran Kemih, Dokter Eka Hospital Cibubur Jelaskan Penyebab dan Cara Penanganya!

Dede Supriadi • Selasa, 22 April 2025 | 20:53 WIB
Dokter Spesialis Urologi RS Eka Hospital Cibubur, dr. Diki Arma Duha, Sp. U saat memberikan pemaparan.
Dokter Spesialis Urologi RS Eka Hospital Cibubur, dr. Diki Arma Duha, Sp. U saat memberikan pemaparan.

RADAR BOGOR - Rasa sakit yang tiba-tiba muncul di area pinggang atau perut dan menyebar hingga ke selangkangan mungkin menandakan adanya masalah dengan batu saluran kemih.

Batu saluran kemih muncul ketika ada penumpukan mineral dan garam yang membeku di bagian ginjal atau sepanjang saluran kemih, mencakup ureter, kandung kemih, hingga uretra.

Dokter Spesialis Urologi RS Eka Hospital Cibubur, dr. Diki Arma Duha, Sp. U, menjelaskan bahwa batu saluran kemih terbentuk akibat kadar zat-zat tertentu dalam urine yang terlalu tinggi. Zat-zat ini akan membentuk kristal yang menjadi batu.

Dia menyatakan bahwa ukuran batu-batu ini dapat bervariasi secara signifikan, mulai dari sekecil butiran pasir hingga sebesar bola golf.

“Batu yang kecil mungkin bisa terlepas dengan sendiri tanpa menimbulkan masalah. Namun, batu yang lebih besar dapat menyumbat saluran kemih dan menyebabkan nyeri yang sangat hebat serta komplikasi serius,” papar dr. Diki dalam penjelasannya, Selasa, (22/4/2025).

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan peluang terbentuknya batu saluran kemih meliputi kurangnya asupan cairan, yang mengakibatkan urine menjadi pekat dan mendorong pembentukan kristal.

Selain itu, faktor risiko lainnya mungkin termasuk riwayat keluarga dengan batu ginjal, diet yang kaya protein hewani, konsumsi garam secara berlebihan, dan makanan yang tinggi oksalat seperti bayam dan cokelat.

Kondisi kesehatan tertentu seperti hiperparatiroidisme, infeksi saluran kemih yang berulang, obesitas, serta penggunaan beberapa jenis obat juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu.

Gejala yang paling umum dialami oleh penderita batu saluran kemih adalah nyeri kolik, yakni rasa sakit yang tajam dan bergetar yang biasanya terasa di pinggang atau samping perut, hingga menjalar ke bagian selangkangan atau paha.

Pasien mungkin juga mengalami urine yang berdarah, nyeri saat buang air kecil, frekuensi buang air kecil yang meningkat, serta urine yang keruh atau berbau, mual, bahkan muntah.

“Dalam situasi yang lebih serius, aliran urine bisa tersumbat, yang bisa berujung pada demam dan menggigil jika disertai infeksi,” jelas dr. Diki.

Dia menjelaskan bahwa penanganan untuk batu saluran kemih ditentukan oleh ukuran dan gejala yang dirasakan oleh pasien.

Dalam kasus ringan dengan ukuran batu yang kecil, bisa dilakukan pengobatan konservatif, seperti meningkatkan asupan cairan menjadi 2-3 liter sehari, memberikan obat penghilang rasa sakit, dan mengonsumsi alpha-blocker untuk merelaksasi otot ureter agar batu dapat keluar dengan lebih mudah.

Pasien juga disarankan untuk menyaring urine guna mengidentifikasi batu yang sudah keluar agar dapat dianalisis lebih lanjut.

Namun, dr. Diki menekankan bahwa jika batu berukuran besar mengakibatkan sumbatan dan rasa sakit yang hebat, tindakan medis lebih lanjut diperlukan. Salah satu metode yang sering digunakan ialah Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), yang memecah batu dengan gelombang kejut dari luar tubuh.

“Di samping ESWL, prosedur seperti ureteroskopi (URS) dan percutaneous nephrolithotomy (PCNL) juga dapat dipertimbangkan, bergantung pada ukuran dan lokasi batu,” jelasnya.

Sementara itu, opsi untuk menjalani operasi terbuka kini jarang dilakukan dan hanya dipilih untuk kasus yang kompleks.

Untuk mencegah terjadinya kekambuhan, dr. Diki menyarankan agar publik menjaga asupan cairan harian, membatasi konsumsi garam dan makanan tinggi oksalat, menghindari minuman manis yang berlebihan, dan tidak sembarangan mengonsumsi suplemen vitamin C dalam dosis tinggi tanpa konsultasi dokter.

“Karena batu saluran kemih bisa kembali muncul setelah pengobatan jika pola konsumsi makanan dan minuman sehari-hari tidak dijaga,” katanya.(ded)

Editor : Dede Supriadi
#Batu Saluran Kemih #Eka Hospital Cibubur #cibubur