RADAR BOGOR - Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Iwan Suryawan menyebut Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah mengajukan anggaran sebesar Rp290 miliar kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) untuk pembangunan jalan layang atau terowongan di perlintasan rel kereta api Kebon Pedes.
Rencana ini diajukan sebagai solusi atas maraknya kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kawasan tersebut, baik yang melibatkan kendaraan maupun pejalan kaki.
Iwan Suryawan, menyampaikan bahwa pengajuan anggaran ini telah diterima dan masuk dalam daftar pembahasan bersama DPRD Jawa Barat.
Dalam proposal yang diajukan, terdapat dua opsi yang dipertimbangkan, yakni pembangunan jembatan layang atau terowongan, yang dijadwalkan mulai dilaksanakan pada tahun 2026.
“Terakhir kemarin mobil tertabrak kereta, untungnya pengendara dan penumpang sudah keluar lebih dulu. Tapi mobil rusak berat karena tidak sempat menghindar. Solusinya memang membangun jalan layang atau terowongan, anggaran yang diajukan Pemkot Bogor Rp290 miliar,” kata Iwan pada Senin (28/4/2025).
Dalam rincian pengajuan tersebut, anggaran Rp50 miliar direncanakan untuk pembebasan lahan, sementara Rp240 miliar untuk pembangunan fisik.
Iwan menambahkan, Komisi IV DPRD Jawa Barat telah memasukkan rencana ini dalam daftar prioritas anggaran yang akan dibahas bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Meski demikian, pembagian porsi anggaran antara Pemkot Bogor dan Pemprov Jawa Barat masih dalam tahap pembahasan.
“Ada harapan Pemkot Bogor bisa menanggung pembebasan lahan, sementara pembangunannya bisa ditopang oleh provinsi,” jelas Iwan.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga berasal dari daerah pemilihan Kota Bogor dan Cianjur ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kota dan provinsi dalam pembangunan infrastruktur yang lebih aman dan berkelanjutan di daerah yang dikenal sebagai kota hujan dan memiliki sejarah panjang sebagai pusat kerajaan Pajajaran.
Ia menilai, komitmen Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam memperbaiki infrastruktur jalan, salah satunya melalui optimalisasi pajak kendaraan bermotor, menjadi peluang besar untuk mendukung proyek-proyek strategis seperti ini.
Wacana pembangunan jalan layang atau terowongan di perlintasan Kebon Pedes bukan hal baru.
Iwan menyebut, aspirasi tersebut sudah lama disuarakan masyarakat karena tingginya angka kecelakaan yang terjadi hampir setiap tahun di lokasi itu.
“Faktor penyebabnya banyak: volume kendaraan meningkat, perilaku pengendara yang abai, palang pintu perlintasan yang tak memadai, hingga curah hujan tinggi yang bikin jalanan licin,” jelasnya.
Salah satu kecelakaan terbaru terjadi pada Sabtu petang (19/4/2025), saat sebuah mobil Nissan Grand Livina tertabrak kereta di perlintasan rel Kedung Badak, Kelurahan Kebon Pedes.
Saat itu, hujan deras mengguyur kawasan tersebut, menyebabkan jalan licin dan ban mobil tergelincir.
Pengemudi mobil, Evi Apriansyah (40), mengaku mobilnya tersangkut di rel karena kondisi batuan yang mulai terkikis.
Meski warga sekitar sempat membantu, mobil tidak sempat diselamatkan sebelum tertabrak kereta. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
“Tadi hujan deras, mobil saya tersangkut di rel. Pas dengar suara kereta, saya langsung keluar,” ujar Evi.
Akibat kecelakaan ini, KRL yang melintas sempat keluar jalur (anjlok), menyebabkan gangguan sementara perjalanan.
Pihak kepolisian membenarkan kejadian tersebut dan memastikan bahwa tidak ada korban jiwa, hanya kerugian materi.(ded)
Editor : Dede Supriadi