Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bertahan di Tengah Efisiensi, Ketua ASITA Kota Bogor Sebut Travel Agent Kini Ubah Strategi Pasar

Fikri Rahmat Utama • Senin, 5 Mei 2025 | 17:28 WIB

 

Ketua ASITA Kota Bogor, Anni Nuraini (tengah) dan Wakil Koordinator Bidang MICE DPD ASITA Jawa Barat, Suci Nurul Hidayat (paling kanan) saat menjadi narasumber di Siniar Radar Bogor.
Ketua ASITA Kota Bogor, Anni Nuraini (tengah) dan Wakil Koordinator Bidang MICE DPD ASITA Jawa Barat, Suci Nurul Hidayat (paling kanan) saat menjadi narasumber di Siniar Radar Bogor.

RADAR BOGOR - Industri pariwisata di Kota Bogor, terutama agen perjalanan, mulai beradaptasi dengan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Hal ini karena kebijakan itu berdampak pada penurunan permintaan.

Karena sektor hotel dan MICE mencatatkan penurunan signifikan, pelaku usaha mulai mengalihkan fokus pasar ke segmen lain. Contohnya ke sektor swasta, untuk bertahan di tengah tantangan ekonomi yang sedang berlangsung.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) Kota Bogor, Anni Nuraini, menyampaikan meski ada penurunan yang dirasakan dalam bisnis pariwisata, dampaknya belum begitu drastis dibandingkan tahun lalu. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, di bulan Januari dan Februari tidak terjadi penurunan yang signifikan.

"Justru saat momen Lebaran, kunjungan meningkat. Namun, kami mengalami penurunan drastis di bulan April, terutama menurut laporan dari pihak hotel,” ujar Anni dalam Siniar Radar Bogor, Senin (5/5/2025).

Menurut Anni, penurunan ini terjadi saat libur panjang, yang berimbas pada menurunnya okupansi hotel. Libur panjang itu membuat belum ada kegiatan meeting, sehingga okupansi hotel turun cukup tajam.

"Beberapa hotel bahkan tidak sanggup bertahan, meskipun belum ada yang sampai tutup,” tambahnya.

Sebagai pelaku industri travel, Anni juga merasakan penurunan permintaan. Biasanya ada permintaan untuk perjalanan dinas atau kegiatan kementerian, namun kini banyak instansi memilih untuk mengatur sendiri kegiatannya.

“Karena adanya efisiensi, banyak instansi memilih mengatur sendiri kegiatannya. Akibatnya, permintaan menurun,” katanya.

Meskipun demikian, ia mengungkapkan dampak efisiensi tidak mencapai 50 persen. Sebagai solusi, para agen perjalanan wisata seperti mereka berusaha memodifikasi produk dan menyesuaikan dengan perilaku konsumen yang berubah.

“Di awal tahun, ada perilaku konsumen dari sektor swasta seperti bank dan asuransi yang justru sedang tinggi permintaannya karena kegiatan rewarding (penghargaan karyawan),” jelasnya.

Oleh karena itu, ASITA Kota Bogor pun mendorong agar travel agen mengalihkan pemasaran ke segmen baru. Alih-alih fokus pada paket meeting yang biasanya mengandalkan kegiatan pemerintah.

Di sisi lain, Wakil Koordinator Bidang MICE DPD ASITA Jawa Barat, Suci Nurul Hidayat, mencatat penurunan signifikan di sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Permintaan di kuartal pertama sendiri masih ada tapi eksekusinya biasanya baru terjadi di kuartal kedua.

"Jadi meskipun permintaan cukup, pelaksanaan belum terlihat sekarang,” kata Suci.

Dampak efisiensi juga terasa di level mikro. Menurut Suci, dari data perusahaan yang dia miliki bahkan penurunan mencapai lebih dari 50 persen.

“Namun kami mencoba beradaptasi dengan ikut terlibat dalam pengembangan segmen dan produk yang lain. Di bidang kami ini ada banyak turunan produk, seperti pemasaran, merchandise, maupun tur reguler, jadi bisa disesuaikan,” ujarnya.

Namun, Suci menambahkan pelaku yang bergantung pada sektor tertentu, seperti kegiatan pemerintahan, cukup terdampak. Pemerintah dan lembaga pendidikan banyak yang menahan kegiatan karena anggaran mereka terikat dan sedang dilakukan efisiensi.

"Selain itu, beberapa perusahaan juga menunda kegiatan mereka karena menunggu kepastian regulasi," ungkapnya.

Saat ini mereka sedang diambang kekhawatiran dengan kebijakan pembatasan akan berlangsung lama. Mengingat efisiensi ini melarang kegiatan pemerintah di hotel, termasuk konsumsi rapat.

“Nah, sekarang ini terasa seperti terulang kembali. Jadi, hotel-hotel yang bergantung pada kegiatan pemerintah sangat terdampak,” ungkapnya.

Namun, sektor MICE dan pariwisata swasta masih bisa bertahan dengan melakukan mixing segmen dan produk. Strategi ini dinilai bisa membantu perusahaan bertahan.

“Walaupun tetap ada penurunan, tapi tidak drastis. Cash flow masih bisa kami jaga, meskipun margin keuntungan memang cukup tergerus di beberapa produk,” tandas Suci. (uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #travel agen #agen perjalanan