Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Puluhan Siswa di Kota Bogor Mendadak Sakit Perut Usai Konsumsi Makanan Bergizi Gratis, Wali Kota Minta Dinkes Lakukan Pemeriksaan Menyeluruh

Muhamad Rifki Fauzan • Rabu, 7 Mei 2025 | 20:17 WIB
Ambulan milik Dinkes Kota Bogor, disiagakan untuk melakukan evakuasi puluhan siswa sekolah swasta di Kecamatan Tanah Sareal, yang mendadak sakit perut, Rabu (7/5/2025).
Ambulan milik Dinkes Kota Bogor, disiagakan untuk melakukan evakuasi puluhan siswa sekolah swasta di Kecamatan Tanah Sareal, yang mendadak sakit perut, Rabu (7/5/2025).

RADAR BOGOR – Puluhan siswa sekolah swasta di Jalan Sholeh Iskandar, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, mendadak sakit perut usai konsumsi makanan bergizi gratis (MBG) di sekolahnya, Rabu (7/5/2025).

Kasus puluhan siswa sakit perut secara massal di Kota Bogor usai konsumsi makanan yang diberikan pihak sekolah secara gratis itu masih dalam proses penyelidikan.

Setelah mendapat laporan ada siswa mendadak sakit perut, beberapa unit mobil ambulance milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, langsung diturunkan ke lokasi untuk melakukan pengecekan.

“Tim langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengecekan serta pengambilan sampel makanan,” ujar Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno kepada Radar Bogor, Rabu (7/5/2025).

Namun Retno mengaku, hingga saat ini pihaknya belum dapat mengetahui pasti jumlah siswa yang menjadi korban, karena masih dalam tahap pendataan dan pemeriksaan.

Siswa yang sakit perut secara massal tersebut berasal dari berbagai jenjang pendidikan, yang berada dalam satu yayasan. Mereka mengaku insiden ini terjadi setelah mengkonsumsi makananan yang diberikan pihak sekolah.

Pemerintah Kota Bogor pun bergerak cepat menanggapi dugaan keracunan MBG yang terjadi di lingkungan sekolah di Kecamatan Tanah Sareal tersebut.

Dugaan ini mencuat setelah sejumlah siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, telah menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Upaya ini mencakup pengujian terhadap sisa makanan, muntahan siswa, serta pengecekan kebersihan alat makan seperti nampan.

"Saya meminta Kadinkes segera memantau proses pemeriksaan sample sisa makanan maupun muntahan siswa, termasuk kemungkinan dari kebersihan nampan makan," ungkapnya.

Pemkot Bogor juga memastikan evaluasi terhadap proses pengolahan makanan dilakukan secara menyeluruh.

Dedie Rachim menekankan pentingnya penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan di seluruh tahapan produksi, mulai dari bahan mentah hingga penyajian akhir.

Sebagai langkah pencegahan, Dedie meminta manajemen SPPG untuk meningkatkan kewaspadaan.

Selain itu, memperkuat pengawasan terhadap kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.

"SPPG Bina Insani untuk lebih waspada dan berhati hati serta menjaga kualitas sajian makanan bagi para siswa," ujarnya.

Dapur SPPG di sekolah ini sendiri setiap hari memproduksi hampir 3.000 porsi makanan untuk 13 sekolah di bawah naungan yayasan tersebut.

Hingga kini, Dinkes mencatat total 36 orang mengalami gejala gangguan pencernaan usai mengkonsumsi makanan gratis tersebut.

Lima orang di antaranya harus menjalani perawatan inap, terdiri dari dua murid dan tiga guru dari TK.

Sementara itu, tujuh lainnya dirawat jalan, termasuk dua siswa dan lima guru.

Sebanyak 24 orang lainnya dilaporkan mengalami gejala ringan, seperti mual dan sakit perut.

Mereka terdiri dari lima siswa, 18 guru, serta satu petugas kebersihan di lingkungan yayasan tersebut.

“Itu kejadian dari makanan kemarin, cuma gejala-gejalanya mulai muncul sore sampai hari ini. Totalnya ada 36 orang,” beber Komandan Kodim 0606 Kota Bogor Kolonel Inf Dwi Agung Prihanto, saat dikonfirmasi Radar Bogor, Rabu (7/5/2025).

Dwi Agung membeberkan, dari 36 siswa ada sebanyak 5 orang yang mengalami keluhan berat sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Kemudian ada pula yang mengalami keluhan ringan, totalnya 24 orang.

Sementara yang melakukan rawat jalan ke rumah sakit ada sebanyak 7 orang.

“Mereka merupakan siswa SD hingga SMP, bahkan ada juga 3 orang guru,” terangnya.

Dia menjelaskan, ada beberapa faktor kejadian tersebut bisa menimpa puluhan siswa.

Dwi Agung mencontohkan seperti, perilaku siswa yang lupa mencuci tangan, atau bisa jadi tempat makan terlewat dicuci.

Semua dugaan itu, Dwi Agung, tengah diteliti Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor.

Dia berharap masyarakat dapat menunggu dari hasil penelitiannya.

“Jadi belum bisa dipastikan karena MBG, karena kalau program ini ada SOP-nya. Dan 13 sekolah yang dinaunginya tidak mengalami hal serupa, tapi karena sekolah ini menerima MBG jadi harus diperiksa juga,” ujar Dwi Agung.

Oleh karenanya, Dwi Agung menegaskan insiden yang menimpa puluhan siswa ini mesti menjadi perhatian.

Terkhusus bagi para Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lainnya. Semua proses produksi menu MBG diminta harus sesuai dengan SOP.

Mulai dari mengolah makanannya, hingga kebersihan saat pendistribusian ke siswa.

Dwi Agung mengatakan insiden ini tidak berdampak pada penghentian operasional program MBG. Semua masih berjalan seperti biasa.

“Tidak bisa dihentikan karena ini menjadi program, kecuali dapurnya tertimpa bencana baru dan tidak bisa beroprasi,” pungkasnya.(rp1/uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #makanan bergizi gratis #Mbg #siswa keracunan