RADAR BOGOR - Kasus menu makan bergizi gratis di Kota Bogor belum selesai. Sejumlah orang tua siswa yang anaknya menjadi korban, tampak geram atas insiden ini.
Bagaimana tidak, mereka mengaku anaknya sempat mengalami demam tinggi usai menyantap menu makan bergizi gratis.
Bahkan sang anak disebut sulit diajak berkomunikasi lantaran merasa pusing dibagian kepala diduga akibat mengkonsumsi makan bergizi gratis.
Kondisi itu seperti yang dialami anaknya Widya. Dia merupakan wali murid TK Bosowa Bina Insani. Gejala-gejala tersebut dirasakan sang buah hati sejak Selasa (6/5/2025) lalu.
“Pada saat Rabu pagi, anak saya BAB dan ternyata diare, baunya sangat menyengat ditambah demam hingga 40C, anak saya juga pusing, lemes,” tutur Widya pada Radar Bogor.
Widya menuturkan sempat bingung dengan kondisi sang buah hati. Diapun bertanya ke temannya yang juga wali murid di sekolah tersebut. Dan ternyata anak mereka juga mengalami hal serupa.
Hingga saat ini, Rabu (8/5/202) Widya mengatakan anaknya masih demam. Namun suhu tubuhnya sudah turun, yakni 38C. Dan sang buah hati sudah bisa diajak untuk berkomunikasi.
Saat diajak berkomunikasi, sang anak bercerita kepada Widya memang sempat mengkonsumsi menu makan bergizi gratis yang diberikan oleh pihak sekolah.
Menunya, nasi, telur ceplok saus barbeque, tahu dan tumis toge jagung. “Saya pribadi curiga entah sausnya atau telurnya, karena anak yang tidak makan telur di kelas itu sehat tidak ada gejala apapun,” ujarnya.
Tidak tanggung-tanggung, Widya berharap agar program makan bergizi gratis di sekolah anaknya diberhentikan saja. Dan dia meminta untuk mengembalikan konsep lama, yakni kantin sehat.
“Karena yg pertama tidak tepat sasaran, yang kedua kami sebagai orang tua berharap fasilitas kantin sehat yang dulu bisa dikembalikan ke fungsi awalnya,” tegas Widya.
Namun jika pihak sekolah tetap keukeuh melanjutkan, Widya menitipkan sejumlah catatan. Pertama juru masak (Chef) harusnya punya sertifikat HACCP.
Jika masih menggunakan skema yang lama, Widya khawatir kejadian serupa dapat terulang. Makanan diminta Widya tidak boleh didiamkan terlalu lama setelah dimasak.
“Semoga kasus ini digunakan untuk evaluasi, tidak ditutupi dan ditindaklanjuti oleh pihak terkait,” ujarnya.
Widya tidak sendiri, sejumlah orang tua lain pun menuturkan hal serupa. Bahkan hingga saat ini salah seorang diantara mereka anaknya masih menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Kondisi tersebut, seperti yang dialami anak dari AK. Sang buah hati diakuinya masuk ke rumah sakit sejak kemarin, yakni Rabu (7/5/2025). Demamnya tinggi.
“Terakhir di cek 38, sekarang anak saya masih di RS EMC. Waktu Selasa anak saya sempat masuk, cuman pas pulang dia muntah-muntah,” beber AK pada Radar Bogor.
Dan menurut hasil pemeriksaan pihak rumah sakit, anaknya mengalami beberapa gangguan pada tubuhnya. Pertama positif terjangkit Faecal Occult Blood (FOB).
“Kemudian ada bakteri Tropozoid Entamoeba Histolyctica, dan ada tanda infeksi pendarahan mikro pada usus. Kasian banget, semoga ada tindak lanjut dari pihak sekolah,” pungkasnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin