RADAR BOGOR - Komunitas Bujangga Manik Society bersama Tim Ahli Cagar Budaya menggelar Pameran bertajuk Pakwan Pajajaran Kota Sains di Balai Kota Bogor pada Kamis (29/5/2025).
Ketua Harian Pameran Muhammad Al Noza mengatakan pameran tersebut menampilkan konsep atau kondisi kosmopolitan yang terjadi di Bogor pada era Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Ia menjelaskan terdapat lima narasi yang ditampilkan pihaknya dalam pameran tersebut, di antaranya mengenai Pakuan Pajajaran dengan dunia sejamannya, Pakuan Pajajaran dan perputaran komoditas, Pakuan Pajajaran dan hubungan sastra Sunda dan Jawa, Pakuan Pajajaran dan teknologi kuno, serta refleksi.
"Dalam pameran ini kami ingin mengatakan ada konsep kosmopolitan atau interaksi antara masyarakat yang sudah terstruktur dan memiliki teknologi yang sudah sangat berkembang. Jadi ketika membicarakan Pakuan Pajajaran bukan negeri dongeng, melainkan satu peradaban yang sudah beradab," terangnya.
Ketua Umum Pameran, Raden Muhammad Mahfud Sanjaya menambahkan, selain menampilkan kemajuan teknologi di era Kerajaan Pakuan Pajajaran, pameran ini juga menampilkan hasil catatan perjalanan Bujangga Manik.
Dalam catatan tersebut ditampilkan kondisi wilayah, masyarakat, dan peradaban di era Kerajaan Pakuan Pajajaran yang maju.
"Isinya ialah diary catatan pribadi beliau mengenai perjalanannya dari Cipakanclan, Jawa Timur, Bali dan kembali lagi. Catatanya sangat unik dan lengkap tentang kewilayahan seperti topografi dan demografi. Namun sayang naskah aslinya ada di Layden Inggris," ungkap Jay, sapaan akrabnya.
Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengapresiasi inisiatif pameran tersebut menyebut pameran ini bisa menambah khasanah dan wawasan warga Bogor.
"Ini bentuk literasi dan pustaka baru, ternyata dalam sejarah ada seorang Bujangga Manik yangmelakukan perjalanan jauh dan beliau itu mencatat prrjalanannya dan menggambarkan orang Sunda selain mencatat ternyata membuat peta dan memiliki teknologi tinggi," ujar Dedie.
Menurutnya pameran ini bisa semakin membuat masyarakat paham dengan sejarah dan bangga akan Tanah Sunda. Dengan begitu mereka semakin terdorong untuk menjaga dan melestarikan budaya tersebut.(Fat)
Editor : Eka Rahmawati