RADAR BOGOR—Dedie Rachim, Wali Kota Bogor, menyambut mahasiswa Magister Manajemen dan Bisnis E93 dari Sekolah Bisnis IPB University di Balai Kota Bogor.
Pertemuan dengan Dedie Rachim ini, melibatkan Aulia Puspa Damayanti, Yulia Suryadi, dan Muhammad Farizqi Sulistyoaji, yang sedang menuntaskan kepentingan Tugas Akhir Mata Kuliah Kepemimpinan Intrapreneurial dalam naungan Prof. Dr. Rizal Syarief, DESS.
Dalam proses in-depth interview ini, Dedie Rachim menjelaskan berbagai hal terkait pendekatan kepemimpinan intrapreneurial yang ia terapkan selama berkarir, terlebih dalam perannya sebagai nahkoda transformasi Kota Bogor.
Kepemimpinan intrapreneurial, menurut Dedie Rachim, menuntut keberanian mengambil keputusan secara cepat, berbasis data, dan selalu berorientasi pada solusi.
Salah satu contoh paling nyata dari hal ini adalah bagaimana Pemerintah Kota Bogor merespons pandemi Covid-19.
Bahkan sebelum instruksi resmi dari pemerintah pusat, Dedie Rachim berinisiatif mengubah rumah dinas wali kota menjadi pusat krisis atau koordinasi darurat.
RSUD Kota Bogor juga diminta menyiapkan ruang isolasi bertekanan negatif dalam waktu singkat sebagai langkah antisipatif. “Semua harus cepat, terukur, dan berbasis data,” kenangnya.
Contoh lain adalah respons Dedie terhadap polemik penataan median jalan di sejumlah ruas utama Kota Bogor yang sempat memicu perdebatan publik.
Alih-alih bersikap defensif, ia memilih untuk memungkinkan diskusi, mempertimbangkan kembali penelitian berdasarkan keinginan warga, dan menyesuaikan desain dengan prinsip tata ruang yang adaptif.
Sikap responsif ini, kata Dedie Rachim, bukanlah bentuk inkonsistensi, melainkan bagian dari proses inovatif yang mendengarkan.
Kepada mahasiswa, Dedie Rachim menekankan bahwa pemimpin tidak boleh hanya menjadi pelaksana kebijakan, melainkan harus menjadi pembawa perubahan. “Kalau niat kita benar, keputusan kita harus berani dan bersih,” ujarnya.
Dengan menggabungkan nilai-nilai integritas yang dia peroleh dari pengalamannya selama 13 tahun di KPK dan pengalamannya membangun budaya inovasi di dalam pemerintahan, Dedie Rachim menunjukkan bahwa semangat intrapreneurial dapat menjadi pendorong nyata untuk birokrasi yang lebih lincah, inklusif, dan efektif.
Kepemimpinan yang ia anut, kata Dedie, bukan hanya soal administrasi dan prosedur. Ia menekankan pentingnya keberanian mengambil keputusan berbasis data, ketegasan moral, serta inovasi yang lahir dari dalam birokrasi itu sendiri.
“Kita ini pelayan publik. Maka harus siap jadi problem solver, bukan sekadar pelaksana,” tegasnya.
Dedie dikenal bukan hanya karena jabatannya, melainkan karena rekam jejak panjangnya di lembaga antirasuah, KPK.
Lulusan ITB ini sebelumnya menjabat berbagai posisi strategis di KPK, termasuk Direktur Pendidikan Masyarakat dan Direktur Kerjasama Antarinstansi.
Nilai integritas, efisiensi, dan keberpihakan kepada masyarakat yang ia bawa dari masa tugasnya di KPK kini menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan di Kota Bogor.
Dalam wawancara tersebut, Dedie memaparkan beberapa program unggulan yang mencerminkan gaya kepemimpinan intrapreneurial yang progresif.
Mulai dari Kampung Tematik, yang berfungsi sebagai tempat bagi warga untuk berinovasi, hingga kolaborasi dengan perusahaan swasta seperti Kampung Berseri Astra, dan digitalisasi layanan melalui Bogor Smart City.
“Transformasi itu bukan hanya soal fisik kota. Tapi tentang bagaimana pemerintahan bisa beradaptasi, melayani dengan cepat, murah, mudah, dan berdampak nyata,” ujarnya.
Hasil dari pendekatan ini cukup signifikan. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Kota Bogor meningkat dari 83% pada tahun 2020 menjadi 89,7% di tahun 2023.
Tak heran, Kota Bogor dinobatkan sebagai Kota Terinovatif 2023 dalam ajang Innovative Government Award.
Kepada mahasiswa, Dedie Rachim menitipkan pesan tentang pentingnya integritas, reputasi, dan kesiapan untuk mengambil peran dalam perubahan.
“Posisikan diri, tentukan jalur terbaik dan bangun reputasi. Reputasi itulah yang akan melahirkan kepercayaan dan mendatangkan banyak kesempatan untuk perubahan,” pungkasnya.
Pertemuan ini tak hanya menjadi pelengkap tugas akademik semata, melainkan juga menjadi inspirasi langsung tentang bagaimana nilai-nilai kepemimpinan intrapreneurial dapat diimplementasikan secara nyata oleh seorang pemimpin daerah, dari Bogor untuk Indonesia. (***)
Editor : Yosep Awaludin