RADAR BOGOR – Workshop Bogorku Bersih 2025 resmi digelar Jumat (13/6/2025), menghadirkan 100 RT dari berbagai wilayah di Kota Bogor sebagai peserta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan lomba lingkungan tahunan terbesar di Kota Hujan.
Direktur Radar Bogor Nihrawati AS menyampaikan fokus utama tahun ini adalah memperkuat budaya memilah sampah sejak dari rumah.
Memasuki satu dekade program, wanita yang disapa Ira ini berharap gerakan ini semakin kuat melalui semangat gotong royong.
“Kegiatan ini memang rutin, tetapi merupakan langkah besar jika dilakukan bersama melalui semangat gotong royong,” ujar Nihrawati.
Dari seluruh peserta yang terverifikasi, 75 persen di antaranya mendaftar secara mandiri. Angka ini dinilai sebagai indikator positif meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
“Sebanyak 25 persen lainnya mendaftar melalui jalur umum, tapi yang kami nyatakan lolos adalah mereka yang benar-benar siap, bukan sekadar ikut-ikutan,” tambahnya.
Meski begitu, Nihrawati tidak menampik praktik memilah sampah di tingkat rumah tangga masih menghadapi banyak tantangan. Upaya memisahkan sampah organik dan nonorganik kerap gagal karena belum tumbuhnya kesadaran kolektif.
“Komunikasi dan edukasi harus menyasar seluruh lapisan,” tegas Nihrawati.
Pada kesempata yang sama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Denni Wismanto juga menyoroti tantangan utama pengelolaan sampah di kota ini, yakni dominasi pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Denni menyebut sebanyak 60 persen sampah di Kota Bogor berasal dari rumah tangga, dan 80 persen di antaranya masih masuk ke TPA.
“Target kami adalah menurunkannya menjadi 30 persen,” kata Denni.
Ia menjelaskan, untuk mencapai target tersebut, pengelolaan sampah harus dilakukan sejak dari sumber, tetapi upaya ini harus didukung sistem pengangkutan yang konsisten dan kolaborasi berbagai pihak seperti Bogorku Bersih.
“Kalau sampah sudah dipilah di rumah tapi tercampur lagi saat diangkut, itu kontraproduktif. Ini PR kita bersama,” ujar Denni.
Sementara itu Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Bogor, Rahmat Hidayat menambahkan kegiatan ini tidak boleh berhenti di level seremonial. Sebagai kota tempat berdirinya Istana Presiden, menurutnya, wajah Bogor harus terus dijaga.
“Bogor adalah etalase nasional. Maka sudah seharusnya kita menjaga wajah kota ini,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi Radar Bogor yang konsisten menjadi mitra kegiatan. Rahmat sekaligus mendorong agar gerakan lingkungan bisa tumbuh dari rumah tangga, RT, hingga komunitas.
“Semoga ‘Bogor Kota Bersih’ tidak hanya menjadi ajang tahunan, tetapi gerakan kolektif yang terus tumbuh dan menyebar,” pungkasnya.
Tahun ini, workshop menghadirkan empat narasumber. Aktivis lingkungan Een Irawan Putra membawakan materi “Sampah Jadi Uang”, juri Bogorku Bersih Gatut Susanta menjelaskan manfaat lubang resapan biopori, Kabid Tata Lingkungan DLH Kota Bogor Setiawati membahas peran pemda dalam pengembangan bank sampah, dan Guru Besar IPB Prof. Hadi Susilo Arifin memaparkan pengelolaan pekarangan, taman publik, dan ruang terbuka hijau permukiman.
Sementara itu, lomba Bogorku Bersih 2025 meliputi enam kategori yakni permukiman swadaya, permukiman teratur, sekolah, bank sampah, permukiman tepi sungai, dan perangkat daerah (OPD).
Proses penilaian telah berlangsung sejak awal tahun melalui tahapan pendataan, verifikasi, dan pengecekan lapangan. Tiga indikator utama menjadi dasar penilaian, yakni partisipasi masyarakat (25 persen), efektivitas pelaksanaan (25 persen), dan inovasi pengelolaan lingkungan (50 persen). (uma)
Editor : Eka Rahmawati