Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jadi Alat Diplomasi, FTI Dukung Pengajuan Tempe Jadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO

Fikri Rahmat Utama • Sabtu, 14 Juni 2025 | 16:54 WIB
Peserta Rembug Budaya Tempe belajar membuat Tempe dari berbagai kacang-kacangan selain Kedelai usai mengikuti perayaan Hartempenas di Hotel Salak Heritage, Kota Bogor
Peserta Rembug Budaya Tempe belajar membuat Tempe dari berbagai kacang-kacangan selain Kedelai usai mengikuti perayaan Hartempenas di Hotel Salak Heritage, Kota Bogor

RADAR BOGOR – Perayaan Hari Tempe Nasional (Hartempenas) 2025 yang digelar di Hotel Salak Heritage, Kota Bogor, Sabtu (14/6/2025), menjadi momen penting dalam perjalanan tempe menuju pengakuan dunia.

Tahun ini, Pemerintah Indonesia secara resmi mengajukan tempe sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, melalui Kementerian Kebudayaan pada Maret 2025 lalu.

Ketua Umum Forum Tempe Indonesia (FTI), Prof. Hardinsyah, menyebut peringatan Hartempenas kali ini sebagai momentum bersejarah.

Ia mengungkapkan, inisiasi pengajuan tempe ke UNESCO telah dimulai sejak 2014, namun baru tahun ini disetujui secara resmi oleh pemerintah.

“Ini hasil kerja keras berbagai pihak yang peduli terhadap produksi tempe yang higienis dan pelestarian budaya kuliner kita,” ujarnya.

Selain perayaan, kegiatan juga diisi dengan Rembug Budaya Tempe yang menghadirkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, perajin tempe, LSM, hingga perwakilan pemerintah.

Rembug yang dipandu Prof. Alie Humaedi dari BRIN menghasilkan empat rekomendasi penting yang akan disampaikan kepada pemerintah.

Pertama, menjadikan tempe sebagai alat diplomasi budaya, termasuk dalam sajian jamuan kenegaraan dan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis.

Kedua, penguatan UMKM tempe melalui dukungan akses permodalan, teknologi, dan pasar global.

Ketiga, dorongan riset dan inovasi dalam pengembangan pangan dan suplemen berbasis tempe.

Keempat, integrasi budaya tempe ke dalam kurikulum pendidikan serta pembangunan kawasan wisata tempe.

“Rekomendasi ini bentuk komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mengawal tempe sebagai warisan budaya dunia,” jelas Prof. Alie.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO), Aip Syarifuddin, menyatakan Rembug Budaya Tempe adalah wadah menyuarakan aspirasi para pengrajin tempe dari seluruh Indonesia.

“Hampir di setiap pasar di Indonesia pasti ada penjual tempe. Tercatat sekitar 170.000 perajin tempe tersebar di berbagai daerah. Tempe bahkan sudah diekspor ke pasar global,” ucap Aip.

Menurutnya, hasil Rembug Budaya Tempe akan direkomendasikan kepada pemerintah guna menjaga keberlanjutan budaya warisan leluhur. Serta menjadikan tempe sebagai ujung tombak diplomasi budaya Indonesia.

Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Ahmad Sulaeman, menambahkan tempe telah menjadi bagian dari program nasional Makan Bergizi Gratis.

Menurutnya, tempe adalah superfood asli Indonesia yang bisa menjawab tantangan gizi anak sekolah dan kelompok rentan.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Dedie Rachim turut hadir menyampaikan kebanggaannya karena Kota Bogor menjadi bagian penting dalam sejarah pengajuan tempe ke UNESCO.

Menurut Dedi Rachim, produsen tempe asal Bogor kini telah mengekspor produknya ke 10 negara.

“Tempe kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Ini produk lokal sederhana, tapi punya nilai gizi tinggi dan potensi ekonomi luar biasa,” tegas Dedie.

Dari kancah internasional, diaspora Indonesia yang juga pengrajin tempe di Texas, Amerika Serikat, Xenia Tombokan, mengaku tempe telah diterima baik oleh masyarakat internasional.

Berlatar belakang doktor kimia, ia kini memilih fokus memproduksi tempe di AS karena potensi gizinya yang besar.

“Tempe punya nilai budaya dan kesehatan yang bisa diterima masyarakat internasional,” ucap Xenia.

Sementara itu, pelopor ekspor tempe asal Indonesia, Cucup Ruhiyat, mengungkapkan bahwa produknya kini telah menembus pasar di Amerika, Jepang, Korea, Cina, Arab Saudi, hingga negara-negara ASEAN.

“Tempe kini menjadi pilihan kaum vegan dunia karena kandungan gizinya. Ini kekuatan kita dalam diplomasi pangan,” ujarnya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #warisan budaya tak benda #unesco #tempe