Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jalan Sholeh Iskandar Kota Bogor Rawan Kecelakaan, Puluhan Kasus Terjadi Sejak Awal 2025

Fikri Rahmat Utama • Rabu, 18 Juni 2025 | 22:17 WIB
Kondisi mobil yang terguling di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Kamis (15/8/2024).
Kondisi mobil yang terguling di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Kamis (15/8/2024).

RADAR BOGOR – Jalan Raya Sholeh Iskandar, Kota Bogor, atau yang dikenal dengan sebutan Jalan Baru seringkali menjadi sorotan.

Jalur Sholeh Iskndar yang menjadi penghubung utama dari Simpang BOR menuju Parung ini tercatat sebagai salah satu kawasan paling rawan kecelakaan di Kota Bogor.

Hingga pertengahan Juni 2025, sebanyak 58 kasus kecelakaan telah terjadi di ruas Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor.

Angka tersebut mencakup insiden ringan, kecelakaan tunggal, hingga kecelakaan fatal yang merenggut nyawa.

“Dari Januari hingga pertengahan Juni 2025, ada 58 kasus yang kami catat,” ungkap Kanit Gakkum Satlantas Polresta Bogor Kota, AKP Santi Marintan, saat dikonfirmasi Radar Bogor, Rabu 18 Juni 2025.

Salah satu insiden paling tragis terjadi pada 19 Januari 2025 di Jalan Sholeh Iskandar. Dua sepeda motor yang melaju dari arah berlawanan bertabrakan di dekat SPBU Shell.

Tabrakan keras ini menewaskan satu pengendara dan melukai tiga lainnya. Polisi mengungkapkan kedua motor tersebut melawan arus untuk menghindari kemacetan.

Insiden lainnya tercatat pada 23 April 2025, ketika seorang pengendara motor menabrak pembatas jalan dekat Depo Bangunan akibat diduga mengalami microsleep. Meski selamat, korban mengalami luka cukup serius.

Keesokan harinya, 24 April, terjadi lagi kecelakaan di depan proyek RS Mulia II Jalan Sholeh Iskandar.

Sepeda motor yang dikendarai kakak-beradik menabrak truk Hino Flatdeck yang terparkir di badan Jalan Raya Sholeh Iskandar.

Sang kakak, seorang siswi SMA, tewas di tempat. Sementara sang adik selamat dengan luka ringan.

“Ketika melintas, diduga pengendara oleng ke kiri dan menabrak bagian kanan belakang truk yang parkir,” jelas AKP Santi.

Rentetan insiden terus berlanjut. Pada 14 Juni 2025, dua perempuan pengendara Honda Spacy ditabrak mobil Toyota Innova saat memutar arah setelah keluar dari restoran Mie Gacoan.

Keduanya harus dilarikan ke RSUD Kota Bogor karena mengalami luka-luka. Empat hari berselang, pada 18 Juni, kecelakaan tunggal kembali terjadi.

Seorang pengendara Yamaha X-Ride menabrak trotoar di dekat bengkel tambal ban akibat diduga kembali mengalami microsleep. Ia kini dirawat di RS PMI Kota Bogor.

Terkait banyaknya kasus, Kasat Lantas Polresta Bogor Kota Kompol Yudiono mengaku belum dapat memberikan kesimpulan resmi penyebab kecelakaan.

Saat ini pihaknya masih mendalami pola kecelakaan yang terjadi di kawasan Jalan Sholeh Iskandar.

“Saya kan baru beberapa bulan (menjabat), jadi masih harus komunikasi dulu dengan instansi terkait dan Kanit Laka,” kata Yudiono saat dihubungi.

Namun saat ditanya soal kemungkinan pembatasan kecepatan dan penambahan rambu lalu lintas, Yudiono menyebutkan hal itu akan menjadi bahan evaluasi ke depan. "Kami dalami dulu," jawabnya singkat.

Sementara itu, warga yang beraktivitas di sekitar lokasi menyebut kecelakaan sudah menjadi hal lumrah.

Titik rawan seperti depan restoran dan area pertokoan kerap menjadi lokasi pengendara keluar mendadak tanpa melihat arus lalu lintas.

“Sering kejadian. Banyak yang keluar langsung putar arah tanpa lihat kiri-kanan,” tutur Popo, pedagang kaki lima di sekitar lokasi.

Ia menambahkan, laju kendaraan di sepanjang Jalan Baru tergolong tinggi. Kemudian ditambah minimnya pengawasan, sehingga memperbesar potensi kecelakaan.

“Kendaraan juga di sini tidak ada yang pelan. Kalau ada sesuatu di depan ya bisa langsung tabrakan,” katanya.

Melihat kondisi ini, Dosen Teknik Sipil FTS UIKA Bogor, Muhammad Nanang Prayudyanto, menyoroti sejumlah aspek penting yang selama ini luput dari perhatian. Menurutnya, ada sembilan permasalahan utama yang membuat Jalan Sholeh Iskandar rawan kecelakaan.

“Pertama adalah U-turn yang terlalu pendek, kedua banyak pengendara yang melawan arus, ketiga kurangnya rambu keselamatan, keempat over speeding atau kecepatan berlebih, dan kelima adalah fenomena microsleep, terutama bagi pengendara dari perjalanan jauh,” jelasnya saat diwawancarai Radar Bogor, Rabu 18 Juni 2025.

Permasalahan lainnya adalah tidak adanya fasilitas penyeberangan yang layak, kondisi trotoar yang buruk atau tidak ada sama sekali, konflik arus kendaraan akibat akses tol (weaving conflict), serta tidak adanya celukan bagi kendaraan umum yang ingin berhenti.

“Kalau ditanya mana yang paling berbahaya, saya menilai kecepatan tinggi dan pengambilan keputusan berisiko dari pengendara motor, seperti memotong jalur tanpa perhitungan, itu sangat fatal,” ujarnya.

Nanang menjelaskan, dalam ilmu lalu lintas dikenal istilah “gap acceptance”– yakni jarak aman untuk berpindah jalur atau berbelok.

Banyak pengendara motor di Jalan Sholeh Iskandar yang tidak memperhatikan ini, sehingga menimbulkan tabrakan.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya penyesuaian desain jalan, termasuk memperpanjang jarak U-turn. Ini agar pengendara tidak langsung bersinggungan dengan arus utama.

Ia juga mendorong pemerintah untuk menambah rambu-rambu keselamatan. Kemudian membangun sistem penyeberangan pejalan kaki yang lebih ramah, seperti pelican crossing yang bisa diaktifkan secara manual oleh pejalan kaki.

"Kualitas trotoar juga harus ditingkatkan. Trotoar dengan lebar minimal 3 meter dan permukaan yang nyaman dapat mendorong warga untuk lebih banyak berjalan kaki," ungkapnya.

Penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas pun perlu diperkuat, terutama terhadap pengendara motor yang melawan arus atau memotong jalan secara sembarangan.

Ia juga mengusulkan pemasangan rambu atau sistem pengawas kecepatan otomatis, seperti speed cam berbasis radar, untuk mengontrol pengendara yang melaju di atas batas kecepatan di Jalan Sholeh Iskandar.

"Dengan panjang sekitar 5,7 kilometer dan jumlah simpang yang masih bisa dikendalikan, revitalisasi jalur ini seharusnya dapat dilakukan secara bertahap dan terukur," jelasnya. (uma)

Suasana penumpang yang ada di BIZAM, Rabu (18/6).
Suasana penumpang yang ada di BIZAM, Rabu (18/6).
Editor : Alpin.
#kota bogor #jalan sholeh iskandar #rawan kecelakaan