RADAR BOGOR – Kota Bogor bakal mencatat sejarah sebagai tuan rumah Jambore Guru dan Pendamping Anak Istimewa pertama di Indonesia.
Kegiatan inisiasi Komunitas Kagume (Ikatan Guru Anak Istimewa) ini rencananya digelar selama dua hari, mulai 30 Juni hingga 1 Juli 2025 di Kota Hujan.
Ketua Kagume, Ari Hakiki menyampaikan kegiatan ini merupakan program perdana komunitas sejak berdiri pada September 2023. Ini juga sebagai langkah awal mereka untuk memperluas dampak Kagume.
"Kami ingin memberi ruang belajar bagi guru-guru yang fokus menangani anak-anak berkebutuhan khusus, serta menjalin jaringan nasional,” ujar Ari dalam podcast Bicara Bogor, Senin 23 Juni 2025.
Jambore ini akan diikuti oleh 94 peserta dari 32 sekolah—baik negeri, swasta, hingga homeschooling—yang tersebar dari berbagai wilayah Indonesia.
Tak hanya dari Jabodetabek, peserta juga tercatat datang dari Sumatera, Kalimantan, sampai Sulawesi.
Kegiatan ini diselenggarakan atas kolaborasi Kagume dengan Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN).
Sejumlah narasumber nasional di bidang pendidikan inklusi juga dihadirkan, seperti dari Komisi Disabilitas Nasional dan penggiat ABK.
"Materi yang disampaikan antara lain mencakup teknik komunikasi dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) dan orang tua, serta pelatihan khusus bagi guru pendamping," jelasnya.
Kagume sendiri lahir dari keresahan para guru pendamping khusus di Kota Bogor, yang merasa tidak memiliki wadah untuk berbagi dan belajar bersama.
Berawal dari obrolan kecil antara guru kemudian ditindaklanjuti bersama-sama.
“Ada banyak pertanyaan dari teman-teman, seperti ‘ke mana kami bisa belajar menangani ABK?’ atau ‘siapa yang bisa menjadi tempat bernaung para guru inklusi?’ Dari situ, Kagume terbentuk,” ungkap Ari.
Awalnya komunitas ini bernama Ikatan Guru Istimewa, namun karena nama tersebut sudah digunakan di daerah lain, akhirnya disepakati menjadi Kagume—Ikatan Guru Anak Istimewa.
Hingga kini, komunitas ini telah berkembang dan menaungi sekitar 280 anggota dari berbagai sekolah di Kota Bogor dan sekitarnya.
Wakil Ketua Kagume, Handi Sopian, menambahkan salah satu keresahan terbesar di lapangan adalah minimnya guru pendamping di sekolah-sekolah negeri.
Padahal, saat ini sekolah umum sudah mulai menerima siswa berkebutuhan khusus melalui skema sekolah inklusi.
“Banyak sekolah negeri menerima ABK, tapi belum punya guru pendamping. Biasanya hanya dikelola oleh guru kelas. Ini jadi tantangan karena kebutuhan ABK sangat individual,” jelas Handi.
Berbeda dengan anak lain, siswa berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan, penyesuaian materi, serta perhatian khusus dalam proses belajar.
Oleh karena itu, guru pendamping berperan penting dalam menyederhanakan materi dan membantu siswa memahami pelajaran.
“Kami di Kagume sedang menyiapkan program pelatihan guru pendamping. Harapannya, ke depan kami bisa menyalurkan guru-guru ini ke sekolah-sekolah yang belum punya SDM khusus,” tambahnya.
Baik Ari maupun Handi menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam mendorong sistem pendidikan inklusi yang lebih ideal.
Mereka berharap kehadiran pemerintah dapat terlihat lebih nyata, terutama dalam menyiapkan regulasi, SDM, dan pendanaan untuk sekolah-sekolah inklusi.
“Kami tidak bisa jalan sendiri. Harapannya, lewat kegiatan seperti Jambore ini, kita bisa membuka mata semua pihak bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar wacana, tapi butuh kerja nyata,” tutup Hadi. (uma)