Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bapanas Meningkatkan Keamanan Pangan Makanan Melalui Rapid Test untuk Mendukung Program MBG

Dede Supriadi • Rabu, 25 Juni 2025 | 13:47 WIB
Bapanas saat meluncurkan IKPN bersamaan dengan perayaan Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day) 2025.
Bapanas saat meluncurkan IKPN bersamaan dengan perayaan Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day) 2025.

RADAR BOGOR—Pada Hari Keamanan Pangan Dunia pada tahun 2025, Badan Pangan Nasional, juga dikenal sebagai Bapanas, secara resmi meluncurkan Indeks Keamanan Pangan Nasional (IKPN).

Di IPB International Convention Centre (IICC), Botani Square, pada hari Selasa 24 Juni 2025, Bapanas meluncurkan IKPN alat pengukur standar keamanan pangan di Indonesia.

Andriko Noto Susanto, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, mengatakan bahwa keamanan pangan sekarang sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.

Karena itu, IKPN akan berfungsi sebagai pengukur keberhasilan kebijakan keamanan pangan, baik dari segi hasil maupun dampak.

Andriko Noto Susanto mengatakan bahwa di dalam pangan ada batas maksimum atau tertinggi.

Contohnya, residu pestisida masih dianggap aman jika masih di bawah ambang batas, tetapi jika melebihi ambang batas, itu tidak aman.

IKPN diharapkan dapat memberikan informasi penting untuk memastikan bahwa makanan, terutama yang disajikan dalam program makan bergizi gratis (MBG) di sekolah-sekolah, memenuhi syarat sebelum dimakan oleh anak-anak di Indonesia.

Dia menyatakan bahwa Bapanas akan menggunakan acuan tersebut, menggunakan indikator ketahanan pangan sebagai ukuran, serta dari segi keamanan pangan.

Oleh karena itu, Bapanas bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menerapkan alat uji cepat untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan kepada siswa aman.

“Kami telah membahas penerapan uji ketahanan pangan cepat. Kami juga mendapatkan informasi dari BGN bahwa alat uji (cepat) ini akan diterapkan pada setiap bahan pangan,” jelasnya.

Oleh karena itu, semua makanan yang disiapkan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan diuji lebih lanjut sebelum diberikan kepada publik.

“Artinya, makanan ini akan diuji terlebih dahulu. Jika hasilnya negatif, maka kita lanjutkan prosesnya. Namun, jika hasilnya positif, misalnya ada kadar pengawet tinggi pada ayam, itu harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tuturnya.

Menurut Andriko Noto Susanto, prosedur tes cepat ini tidak akan memakan waktu lama, yaitu hanya sepuluh menit.

Sampel akan dikirim ke laboratorium yang terakreditasi jika ditemukan bahan berbahaya. “Oleh karena itu, agar kami dapat memastikan makanan di sekolah benar-benar aman untuk disajikan,” tegasnya.

Alat uji cepat ini hanya akan dibuat oleh dua lembaga yang telah diverifikasi dan memenuhi standar ilmiah untuk memastikan keabsahan hasilnya. Ini juga menjawab pertanyaan mengenai apakah alat ini dapat dijual secara bebas.

Andriko menjelaskan, "Akan ada lembaga yang terverifikasi yang memproduksi alat rapid ini karena ditujukan untuk tujuan ilmiah."

Ia juga menyatakan bahwa alat ini akan digunakan untuk menanggapi laporan pelanggaran keamanan pangan dalam dua cara: skema statis (di titik penyajian tetap) dan skema dinamis atau mobile.

Selain itu, Bapanas memastikan bahwa program MBG berhasil berkat sumber daya manusia yang baik.

Pada tahun 2025, lebih dari 30 ribu peserta pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) angkatan 3 akan mempelajari keamanan pangan.

Dalam memperingati Hari Keamanan Pangan Dunia, Bapanas mengadakan seminar dengan judul "Peran Penting Sains dalam Keamanan Pangan", kata Sarwo Edhy, sekretaris Bapanas.

Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan untuk setiap tindakan yang berkaitan dengan keamanan pangan.

"Jaminan keamanan pangan yang terintegrasi akan menjamin perdagangan yang bertanggung jawab, dimulai dari legislasi hingga komunikasi, informasi, dan edukasi," kata Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy mengatakan bahwa peraturan pemerintah memperkuat upaya keamanan pangan, memastikan bahwa makanan aman untuk konsumen, termasuk yang berbasis sains.

"Sains bukan hanya alat untuk mengurangi risiko keamanan pangan, tetapi juga sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang komprehensif," katanya.

Menurut Sarwo Edhy, penilaian sistem keamanan pangan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota adalah salah satu upaya untuk menjamin keamanan pangan.

Ini akan meningkatkan layanan dan pengawasan keamanan makanan segar di setiap rantai makanan.

Pengawasan keamanan pangan menghadapi tantangan karena luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia.

"Hari ini saya ingin mengatakan bahwa semua unsur berperan dalam mewujudkan keamanan pangan yang lebih baik lagi," tuturnya. (ded)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #Bapanas #ikpn