RADAR BOGOR – Pemerintah Kota Bogor, terus mendorong gerakan konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).
Ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan pangan sehat dan aman adalah kebutuhan mendasar bagi pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Menurutnya, kesadaran akan pentingnya pola makan yang baik harus ditanamkan sejak dini dan dilakukan secara berkelanjutan.
“Pangan bukan sekadar mengenyangkan, tapi juga menentukan kualitas hidup. Maka, edukasi soal makanan sehat harus jadi gerakan bersama. Food safety is everyone’s business,” ujar Jenal saat menghadiri Seminar Peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day) di IPB International Convention Centre (IICC), Selasa (24/6/2025).
Ia mengingatkan pangan yang tidak aman bisa menyebabkan penyakit serius hingga kematian.
Sebagaimana tercermin dalam data WHO yang mencatat ratusan juta kasus penyakit akibat makanan terkontaminasi setiap tahun.
“Pemerintah, akademisi, industri pangan, dan masyarakat harus bergerak bersama. Regulasi keamanan pangan harus berbasis sains, agar objektif dan proporsional terhadap risiko yang dihadapi konsumen,” tambahnya.
Upaya edukasi gizi ini juga dijalankan secara konkret oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, yang mengembangkan berbagai program berbasis B2SA.
Kepala DKPP, Chusnul Rozaqi, menyebut konsumsi pangan masyarakat Kota Bogor masih belum beragam, meski dari sisi energi dan protein sudah cukup baik.
“Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Kota Bogor saat ini berada di angka 89,8 poin, masih di bawah standar nasional sebesar 100.
Sementara total energi konsumsi pangan baru 2.068 kilokalori per kapita per hari, atau 98,5 persen dari AKE,” jelas Chusnul beberapa waktu lalu.
Analisis DKPP menunjukkan konsumsi warga masih didominasi kelompok padi-padian, diikuti pangan hewani serta sayur dan buah.
Sementara konsumsi umbi-umbian, kacang-kacangan, minyak dan lemak, serta gula masih rendah.
“Ini menjadi tantangan utama kami. Maka kami terus mengedukasi masyarakat agar lebih sadar pentingnya keberagaman jenis pangan, bukan hanya soal kuantitas,” ungkapnya.
DKPP secara rutin menyelenggarakan lomba cipta menu B2SA, bazar pangan lokal, serta edukasi gizi seimbang di tingkat PAUD dan keluarga.
Pada 2024, lomba cipta menu melibatkan kader PKK dari enam kecamatan dengan mengangkat bahan pangan lokal sebagai sumber gizi.
“Melalui lomba dan bazar, kami ingin menunjukkan bahwa makanan sehat bisa dibuat dari bahan lokal yang murah dan mudah diperoleh. Tidak harus mahal untuk bisa bergizi,” kata Chusnul.
Ia menambahkan, edukasi sejak usia dini juga menjadi bagian dari strategi pencegahan stunting.
DKPP bekerja sama dengan PAUD dan TK dalam pemberian makanan tambahan dan pengenalan makanan sehat.
Dengan edukasi yang konsisten dan intervensi berbasis komunitas, DKPP berharap pola konsumsi masyarakat Kota Bogor lebih sehat dan seimbang.
Kemudian bisa mendukung pencapaian skor PPH nasional yang ditargetkan 95,2 poin pada 2024 oleh Badan Pangan Nasional. (uma)
Editor : Alpin.