Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Haul Kasepuhan Bogor Bakal Digelar di Kota Bogor, Diisi Ziarah dan Gelar Budaya

Fikri Rahmat Utama • Senin, 30 Juni 2025 | 19:26 WIB
Salah satu cicit dari Dalem Sholawat, Raden Muhammad Padmanegara di Podcast Radar Bogor dan menjelaskan terkait pelaksanaan Haul Kasepuhan Bogor ke-153.
Salah satu cicit dari Dalem Sholawat, Raden Muhammad Padmanegara di Podcast Radar Bogor dan menjelaskan terkait pelaksanaan Haul Kasepuhan Bogor ke-153.

RADAR BOGOR – Kota Bogor akan kembali menjadi saksi pelaksanaan Haul Kasepuhan Bogor ke-153 yang rencananya digelar pada Minggu, 13 Juli 2025.

Kegiatan Haul Kasepuhan Bogor ini bukan sekadar ajang spiritual warga Bogor, tetapi momentum penting merawat ingatan kolektif terhadap sejarah dan budaya lokal yang perlahan mulai terlupakan.

Haul Kasepuhan Bogor tahun ini akan dipusatkan di dua titik utama.

Pertama, ziarah akbar ke kompleks makam Dalem Sholawat di kawasan Empang pada sore hari.

Kedua, pergelaran budaya bernapas keagamaan yang akan digelar di Alun-Alun Kota Bogor pada malam harinya.

Salah satu cicit dari Dalem Sholawat, Raden Muhammad Padmanegara, menegaskan Haul Kasepuhan bukan hanya bentuk penghormatan terhadap tokoh leluhur.

Mereka juga ingin menyatukan kembali nilai-nilai warisan kasepuhan yang memadukan agama, budaya, dan kekuasaan dalam satu tarikan napas.

“Haul ini bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga momentum untuk mengenang dan meneladani peran besar para kasepuhan yang menjadi jembatan antara agama, budaya, dan kekuasaan,” kata Padmanegara saat hadir dalam Podcast Radar Bogor, Senin (30/6/2025).

Ia menjelaskan, sejarah kasepuhan Bogor bermula dari sosok Raden Arya Wiradinata, seorang tokoh dari Cianjur.

Raden Arya yang pertama kali membuka dan membentuk wilayah yang kala itu dikenal sebagai Kampung Baru, cikal bakal Bogor Raya.

“Beliau datang dari Cianjur dan membentuk beberapa distrik yang menjadi awal mula Bogor. Waktu itu, wilayah ini masih disebut Kampung Baru karena belum ada apa-apa,” ujarnya.

Dari Raden Arya Wiradinata, estafet kepemimpinan turun kepada putranya, Raden Tumenggung Wiradireja.

Kemudian dilanjutkan oleh Raden Haji Muhammad Tohir, yang dikenal sebagai pendiri Masjid Agung Empang.

Berbeda dengan pendahulunya, Muhammad Tohir tidak memilih jalur pemerintahan, tetapi memilih menjadi kodi atau mufti peran keagamaan yang setara dengan ulama besar.

“Beliau lebih memilih jalur dakwah dan spiritual daripada menjadi pejabat. Namun semangat keumatan tetap diteruskan oleh putranya, Raden Adipati Arya Wiranata. Sekarang, namanya kita kenal sebagai nama jalan di kawasan Empang,” tutur Padmanegara.

Generasi selanjutnya yang paling dikenal masyarakat adalah Dalem Sholawat, tokoh kharismatik yang memiliki nama asli Raden Haji Muhammad Sirodj dan bergelar Raden Adipati Arya Soeriawinata.

Sosok ini tidak hanya dikenal karena karomah dan kewalianya, tetapi juga perannya dalam membangun pemerintahan daerah.

“Banyak yang tidak tahu, sebenarnya beliau adalah pendiri Kabupaten Purwakarta. Beliau menjabat sebagai bupati selama lebih dari 20 tahun, dan bahkan yang memberi nama Purwakarta itu sendiri adalah beliau,” ungkap Padmanegara.

Temuan sejarah ini, lanjutnya, sudah ditelusuri dan dibukukan oleh Dr. Ramlan, seorang peneliti dari Purwakarta yang fokus pada kiprah para menak Sunda di era kolonial.

Penelitiannya menguatkan Dalem Sholawat adalah figur nasional yang berperan besar dalam sejarah tatanan pemerintahan lokal di Jawa Barat.

Tahun ini, Haul Kasepuhan juga akan dimeriahkan dengan beragam pertunjukan khas Sunda seperti mamaos, rampak kendang, hingga pembacaan hikayat kasepuhan.

Acara ini diperkirakan akan dihadiri oleh ratusan peziarah dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Purwakarta.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, juga dijadwalkan hadir sebagai tamu kehormatan dalam pergelaran malam di Alun-Alun Kota Bogor.

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk kembali ke akar budayanya, ke nilai-nilai spiritualnya, sambil tetap sadar akan realitas kekinian. Tradisi tidak boleh hanya jadi simbol, tapi juga harus jadi penguat identitas,” ucap Padmanegara.

Tema haul tahun ini mengutip falsafah Sunda: Panineungan ngepelkeun tur nulurkeun dina raraga raksa jaga ditha.

Tema berarti mengingat, merawat, dan mewariskan nilai-nilai luhur sebagai bentuk penjagaan terhadap kota dan generasi penerus.

“Haul Kasepuhan Bogor bukan sekadar memperingati wafatnya sosok besar. Ia menjadi cara untuk menghidupkan kembali semangat keislaman yang membumi, tradisi yang merangkul, dan sejarah yang membimbing," tutupnya. (uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #Kasepuhan Bogor #Bogor Raya #budaya lokal #ziarah akbar