RADAR BOGOR – Kesadaran akan pentingnya kesehatan fisik dan mental menjadi sorotan utama dalam seminar yang digelar Lanud Atang Sendjaja (ATS) Bogor, Jumat 4 Juli 2025.
Bertempat di Hanggar 2 Lanud ATS, seminar ini membahas pencegahan HIV/AIDS serta peran keluarga dalam menjaga generasi muda di era digital.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bakti ke-78 TNI AU, HUT ke-4 Satuan Udara Pencarian dan Pertolongan Udara Lanud ATS, serta HUT ke-62 Wanita Angkatan Udara (Wara).
Komandan Lanud ATS, Marsma TNI A.F. Picaulima, menegaskan prajurit TNI dan keluarganya harus memiliki ketahanan fisik, mental, dan moral yang kuat.
Menurutnya, tantangan di era digital tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyasar nilai, gaya hidup, dan cara berpikir.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan disiplin fisik. Di era seperti sekarang, ancaman bisa datang dari hal-hal tak terlihat—informasi, gaya hidup, hingga nilai moral yang perlahan berubah,” tegasnya.
Ia berharap melalui seminar ini, seluruh keluarga besar Lanud ATS semakin siap menghadapi perubahan sosial yang kompleks.
Dia juga mengajak agar personil menjadi teladan bagi sekitarnya dan masyarakat.
“Kita jaga keluarga dari ancaman penyakit dan kerusakan moral. Kita jaga masa depan bangsa ini dari dalam rumah kita sendiri,” ungkapnya.
Seminar menghadirkan dua pembicara kompeten di bidangnya, yakni pakar kesehatan dr. Dewi Inong Irana dan Kepala Rumah Sakit TNI AU dr. M. Hassan Toto, Kolonel Kes dr. Srimpi Indah Z.
dr. Dewi menjelaskan, penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular seksual (IMS) sering kali berakar dari lemahnya kontrol diri serta kurangnya pemahaman tentang risiko hubungan seksual yang tidak sehat.
“Penyakit seperti HIV/AIDS bukan hanya ancaman medis, tapi juga bisa menghancurkan masa depan anak muda jika tidak dicegah sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, orang tua—baik ayah maupun ibu—memiliki peran krusial sebagai garda terdepan dalam pencegahan.
Dia mendorong konsep predictive parenting, yaitu pengasuhan proaktif, sadar risiko, dan penuh kasih sayang.
“Anak butuh sentuhan. Pelukan dari orang tua itu jauh lebih efektif daripada seribu nasihat. Mereka butuh ayah yang hadir, ibu yang mendengarkan, dan rumah yang penuh rasa aman,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya membiasakan komunikasi dua arah dengan anak, membatasi paparan konten negatif dari media sosial, serta menjadwalkan quality time secara rutin untuk menjaga anak dari pergaulan bebas.
Tak hanya fokus pada pengasuhan, dr. Dewi juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang berbasis nilai—terutama bagi keluarga prajurit.
Menurutnya, menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari menjaga kehormatan diri.
“Tubuh kita adalah anugerah yang harus dijaga. Jangan biarkan ketidaktahuan membuat kita menyesal di kemudian hari. Edukasi dini sangat penting, dan harus dimulai dari rumah,” ucapnya.
Ia turut menyampaikan data dan fakta medis mengenai tren penyebaran IMS yang mengkhawatirkan.
Maka saat ini penting untuk menjaga kesetiaan pernikahan sebagai perlindungan utama terhadap penyakit menular seksual.
“Fenomena IMS terbesar berasal dari hubungan seksual sesama jenis. Karena itu, kita harus mencegahnya sejak dini agar tidak terjebak dalam hubungan terlarang yang bisa berakibat fatal,” ungkapnya.
Sementara itu, Kolonel Kes dr. Srimpi Indah menyampaikan pentingnya ketahanan jiwa bagi prajurit dan keluarganya di tengah tekanan tugas dan perubahan sosial.
Dia menjelaskan berbagai strategi membangun ketangguhan mental di lingkungan militer, termasuk pentingnya keterbukaan, komunikasi sehat, dan dukungan keluarga.
Seminar berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta yang terdiri dari anggota TNI dan keluarga besar Lanud ATS tampak antusias mengikuti jalannya acara. (uma)
Editor : Alpin.