RADAR BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus mempercepat tindak lanjut proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dan saat ini tengah dipersiapkan sejumlah kebutuhan teknis yang diminta pemerintah pusat.
Proyek nasional ini menargetkan pasokan minimal 1.500 ton sampah per hari, jumlah yang besar itu akan dipenuhi melalui kolaborasi antara Kota dan Kabupaten Bogor.
“Kami diminta menyiapkan pasokan minimal 1.500 ton sampah per hari. Ini angka yang cukup besar dan harus kami penuhi bersama Kabupaten Bogor,” ujar Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Jumat, 18 Juli 2025.
Untuk menunjang kebutuhan proyek, Pemkot Bogor telah menyiapkan lahan seluas 38 hektare di kawasan Galuga. Lahan ini akan menjadi lokasi fasilitas insinerator sebagai pusat konversi sampah menjadi energi.
Selain itu, Dedie menyebut percepatan perizinan administratif juga tengah difinalisasi agar proses pembangunan bisa dimulai segera.
“Secara teknis, kami sedang percepat seluruh proses perizinan. Lahan sudah siap, tinggal memastikan sistem pengangkutan dan pasokan sampah bisa stabil,” jelas Dedie.
Proyek ini merupakan bagian dari program nasional sesuai Perpres 35/2018 yang saat ini sedang dalam tahap revisi. Dalam rapat koordinasi terakhir yang dipimpin Menko Perekonomian dan dihadiri Menteri LHK serta Mendagri, Kota Bogor termasuk salah satu dari 33 daerah prioritas untuk realisasi PSEL.
Ke depan, listrik yang dihasilkan dari fasilitas ini akan dijual ke PLN dengan harga sekitar 8 sen USD per kilowatt hour (KWH).
Sementara itu, pemerintah pusat menargetkan pengelolaan sampah nasional bisa mencapai 100 persen pada tahun 2029, sebagaimana tercantum dalam RPJMN dan menjadi bagian dari arahan langsung Presiden RI Prabowo Subianto kepada pemerintah daerah.
“Kami tidak ingin hanya mengandalkan TPA, harus ada transformasi besar-besaran dalam sistem pengelolaan sampah, proyek ini jadi salah satu jawabannya,” kata Dedie. (uma)
Editor : Eka Rahmawati