RADAR BOGOR – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor baru saja menghapus parkir di kawasan Alun-alun Kota Bogor. Langkah ini menjadi bagian dari upaya penataan lalu lintas untuk mengurai kemacetan di pusat kota Bogor.
Kepala Dishub Kota Bogor Sujatmiko Baliarto menegaskan kebijakan tersebut merupakan langkah awal dari rencana jangka panjang yang tengah disiapkan untuk memperbaiki sistem transportasi secara menyeluruh.
“Ketika saya masuk, kami langsung fokus pada titik-titik krusial penyebab kemacetan, salah satunya di kawasan Alun-alun, parkir liar di sana mengurangi kapasitas jalan dan memperparah antrean kendaraan itu harus ditertibkan,” ujar Sujatmiko dalam Podcast Radar Bogor, Senin, 21 Juli 2025.
Ia menjelaskan Jalan Dewi Sartika yang berada di depan Alun-alun Kota Bogor sebetulnya memiliki empat lajur. Namun dua lajur kerap digunakan sebagai area parkir, menyisakan hanya dua lajur aktif untuk kendaraan dua arah. Akibatnya, tingkat pelayanan jalan atau level of service (LOS) berada di kategori F, alias padat parah.
“Kita harus rela kehilangan satu lajur parkir demi menciptakan tiga lajur aktif. Dengan begitu, arus lalu lintas bisa lebih lancar,” jelas Sujatmiko.
Selain di Jalan Dewi Sartika, penataan parkir juga dilakukan di titik lain seperti Gang Mekah, depan Masjid Raya dan jalur menuju Kapten Muslihat. Dishub Kota Bogor turut menertibkan aktivitas naik-turun penumpang driver ojek online (ojol) dan angkot yang sering berhenti sembarangan dan memperparah kemacetan.
Sujatmiko menegaskan penataan ini bukan sekadar taktis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang berbasis kawasan.
Dishub Kota Bogor juga kini tengah menyusun skema manajemen lalu lintas terpadu yang akan terintegrasi dengan sistem transportasi publik.
Manajemen terpadu ini, kata dia, menjadi bagian penting dari visi Bogor Lancar yang diusung Pemerintah Kota Bogor. Ia menyebut kemacetan di Kota Bogor disebabkan oleh tiga faktor utama seperti keterbatasan kapasitas jalan, delay factor seperti parkir liar dan kendaraan berhenti mendadak, serta perilaku berlalu lintas masyarakat.
Sebagai solusi, ia menyiapkan tiga arah kebijakan jangka menengah, yaitu penataan zona dan titik kemacetan melalui rekayasa lalu lintas, pengelolaan ulang angkutan umum berbasis koridor, dan penerapan transportasi berkelanjutan yang ramah lingkungan serta terintegrasi dengan jalur pejalan kaki.
“Tugas kami bukan hanya menyelesaikan kemacetan hari ini, tapi juga menyiapkan sistem transportasi masa depan yang nyaman, efisien, dan ramah bagi semua,” ujarnya.
Untuk memperkuat layanan angkutan umum, Dishub juga akan mengembalikan dua koridor layanan Biskita tahun ini salah satunya rute Parung Banteng – Air Mancur, yang tak hanya diaktifkan kembali, tetapi juga akan diperpanjang hingga Stasiun Bogor.
“Tahun ini akan kita perpanjang langsung ke Stasiun agar masyarakat tidak perlu berpindah moda dan bisa langsung terhubung ke KRL,” tutupnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati