Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Turunkan Stunting, DPPKB Kota Bogor Gandeng Tokoh Agama hingga ASN

Fikri Rahmat Utama • Jumat, 25 Juli 2025 | 11:41 WIB
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Peningkatan Keluarga Sejahtera, DPPKB Kota Bogor Arief Rachman Badrudin.
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Peningkatan Keluarga Sejahtera, DPPKB Kota Bogor Arief Rachman Badrudin.

RADAR BOGOR – Pemerintah Kota Bogor terus mengintensifkan langkah penurunan angka stunting pada 2025, melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), sejumlah program kolaboratif diluncurkan dengan melibatkan tokoh agama, masyarakat, hingga Aparatur Sipil Negara (ASN).

Hingga pertengahan 2025, prevalensi stunting di Kota Bogor tercatat menurun menjadi 18,2 persen, turun dari 18,7 persen pada 2023. Jumlah kasus pun berkurang signifikan, dari 2.363 kasus pada Februari 2023 menjadi 1.531 kasus pada Februari 2025.

“Capaian ini menunjukkan tren positif, tapi kami ingin lebih agresif menurunkannya. Karena itu, intervensi kami tingkatkan dua kali lipat tahun ini,” ujar Kepala Bidang Pemberdayaan dan Peningkatan Keluarga Sejahtera, DPPKB Kota Bogor Arief Rachman Badrudin.

Tiga program utama yang dijalankan DPPKB Kota Bogor adalah Penting-Lur, Basuh Anting, dan Gema Penting. Ketiganya menjadi andalan dalam menurunkan angka stunting secara sistematis dan berkelanjutan.

Penting-Lur (Pemerintah Kota Peduli Stunting Lewat Telur) melibatkan ASN dan pegawai BUMD untuk menyumbangkan telur sebagai sumber protein bagi anak-anak stunting serta program ini dinilai efektif karena menyasar langsung kebutuhan gizi anak.

Sementara itu, Basuh Anting atau Bapak Asuh Anak Stunting merupakan program pendampingan oleh perangkat daerah, mulai dari pemenuhan administrasi kependudukan, jaminan layanan kesehatan, hingga pencarian donatur untuk perbaikan gizi dan tempat tinggal anak.

Terbaru, program Gema Penting (Gerakan Umat Beragama Peduli Stunting) diluncurkan pada Maret 2025 dengan melibatkan tokoh lintas agama dalam sosialisasi dan edukasi stunting ke masyarakat, peserta dibekali buku saku berisi panduan pencegahan stunting.

“Kolaborasi jadi kunci. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua elemen masyarakat harus peduli dan terlibat,” tegas Arief.

Namun begitu, DPPKB menghadapi tantangan besar. Di antaranya adalah tingginya laju pertumbuhan penduduk, pernikahan usia dini, rendahnya peran pria dalam program Keluarga Berencana (KB), dan keterbatasan sumber daya manusia.

“Optimalisasi SDM, penguatan teknologi seperti chatbot untuk komunikasi cepat, dan sinergi lintas sektor adalah langkah yang terus kami dorong,” jelas Arief.

Target Pemkot Bogor hingga akhir 2025 adalah menurunkan angka stunting secara signifikan agar generasi muda tumbuh sehat menyambut bonus demografi. Evaluasi program dijadwalkan pada Agustus 2025 sebagai dasar penyusunan strategi lanjutan. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #stunting