Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sampah di Kota Bogor Capai 700 Ton Setiap Hari, Pemkot Minta Warga Pilah dari Rumah

Fikri Rahmat Utama • Jumat, 25 Juli 2025 | 12:28 WIB
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dalam Peluncuran program Beberes Runtah Kota Bogor.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dalam Peluncuran program Beberes Runtah Kota Bogor.

RADAR BOGOR – Permasalahan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, volume timbunan sampah harian yang mencapai 600 hingga 700 ton menjadi tantangan serius.

Hal ini di antaranya karena sebagian besar sampah di Kota Bogor masih harus dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, berjarak 18 kilometer dari pusat kota.

Untuk menekan angka itu, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) menginisiasi program Beberes Runtah atau Bersama Bereskan Sampah di Rumah. Program ini mendorong masyarakat agar memilah sampah sejak dari rumah, terutama memisahkan sampah plastik dan sisa makanan.

“Produksi sampah kita tinggi, apalagi sisa makanan itu komposisinya hampir 40 persen dari total. Kalau bisa ditanggulangi dari sumber, tidak akan sebanyak itu yang mengalir ke TPAS,” ujar Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim.

Beberes Runtah merupakan bagian dari misi Bogor Sehat dalam visi Bogor Beres, Bogor Maju. Program ini juga termasuk dalam 33 program prioritas kota, dengan pendekatan Reduce, Reuse, Recycle (3R) serta penyediaan armada angkut sampah yang layak.

Menurut Kepala Bapperida Kota Bogor Rudy Mashudi saat ini baru sekitar 18–20 persen sampah yang bisa dikelola dari tingkat sumber. Sebagian besar sisanya masih harus diangkut ke TPAS karena itu gerakan perubahan perilaku menjadi sangat penting.

“Inovasi ini ingin mengajak semua pihak, termasuk swasta, untuk berkontribusi, terutama menangani food waste yang masih menjadi masalah global,” kata Rudy.

Pilot project program ini sudah dijalankan di Kelurahan Tegallega, warga diberikan dua wadah pemilahan, yakni kantong untuk plastik dan ember untuk sisa makanan. Sampah yang sudah terpisah bisa langsung diolah, baik di tingkat RT maupun melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).

Program Beberes Runtah kini juga diperluas ke sektor usaha dan pendidikan, jotel, restoran, cafe, industri, hingga pengembang ikut dilibatkan dalam kolaborasi pengelolaan sampah sisa makanan. Termasuk di antaranya kerja sama dengan WWF yang mengelola sampah rendah nilai di TPS3R Mekarwangi di Kota Bogor.

Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan (Persik) Bapperida Kota Bogor, Sofie Linawati, mengatakan perubahan budaya masyarakat dalam mengelola sampah harus dibangun secara kolektif bukan tanggung jawab pemerintah saja, tetapi semua.

"Sampah itu kita semua yang hasilkan, maka semua juga harus terlibat menanganinya,” tegas Sofie.(uma)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #sampah