Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Anak-Anak Kota Bogor Bersuara, Sampaikan Lima Aspirasi Utama ke Wali Kota Dedie Rachim

Yosep Awaludin • Senin, 28 Juli 2025 | 13:34 WIB

Audiensi Suara Anak Daerah (SAD) di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis 10 Juli 2025.
Audiensi Suara Anak Daerah (SAD) di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis 10 Juli 2025.


RADAR BOGOR - Forum Anak Kota Bogor (Fanator) kembali jadi tempat untuk menyuarakan suara anak-anak. Mereka menyampaikan lima aspirasi utama yang sangat diharapkan oleh anggota Fanator.

Kelima aspirasi tersebut adalah, infrastruktur yang ramah anak, penguatan kawasan tanpa rokok (KTR), reaktivasi forum anak di kelurahan dan kecamatan, akses pendidikan yang merata dan perlindungan dari kekerasan serta eksploitasi anak.

Menurut Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, setiap keinginan yang disampaikan anak-anak melalui Fanator, atau Forum Anak Kota Bogor, merupakan kontribusi penting yang harus ditindaklanjuti secara bertahap dan konkret.

"Anak-anak dari Forum Anak Kota Bogor menyampaikan pesan yang luar biasa. Mulai dari pembangunan sekolah, keamanan dan kebersihan lingkungan, hingga harapan mereka agar tidak ada orang yang merokok saat menggunakan angkutan umum," kata Dedie Rachim saat audiensi Suara Anak Daerah (SAD) di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis 10 Juli 2025.

Ia berpendapat bahwa menunjukkan kepedulian anak-anak terhadap lingkungan, terutama keinginan untuk angkot tanpa asap rokok, merupakan cara untuk menyuarakan hak mereka yang sejalan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang dimiliki Kota Bogor.

Mereka menginginkan ketenangan, hak untuk diperhatikan, dan tidak menghirup asap rokok. Dia menyatakan bahwa ini sesuai dengan Perda KTR yang sudah dimiliki, sehingga semua usulan itu akan diterima secara bertahap dan pasti akan sesuai dengan anggaran yang ada.

Dedie Rachim menjelaskan bahwa Pemkot Bogor telah mempertimbangkan rasio sebaran sekolah dan kebutuhan lahan.

Serta kemungkinan subsidi untuk anak-anak dari keluarga yang tidak mampu saat mengajukan usulan penambahan sekolah.

"Kami memproyeksikan untuk bisa membiayai sekitar 2.000 anak dari keluarga kurang mampu agar bisa sekolah, terutama di tingkat SMP," tuturnya.

Sementara itu, Rakhmawati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor, mengatakan bahwa mereka akan segera mengintegrasikan pembentukan forum anak ke tingkat kelurahan.

Selain itu, ia menekankan betapa pentingnya mencegah kekerasan terhadap anak dan mengajak semua pihak untuk aktif melindungi anak-anak dari eksploitasi dan pelanggaran hak mereka.

"Masalah kekerasan anak akan kita mulai dari pencegahan, jadi tidak hanya saat sudah terjadi. Ini menjadi fokus penting kita tentang perlindungan anak," kata Rakhmawati.

Menurut Radipta Azki Athaya, Ketua Forum Anak Kota Bogor, kelima rekomendasi yang mereka tawarkan berasal dari survei dan wawancara dengan 300 hingga 500 siswa di Kota Bogor. Forum ini, katanya, menjadi tempat yang sangat penting untuk mendengarkan suara anak.

Kami menginginkan tempat bermain anak yang sudah terstandarisasi. Agar peraturan ini diterapkan dengan benar, KTR ingin bekerja sama dengan dinas yang relevan.

Selanjutnya, Radipta menyatakan bahwa di bidang pendidikan, banyak kecurangan SPMB dan keterbatasan jumlah sekolah yang menyebabkan anak putus sekolah.

Ia berharap pemerintah benar-benar memperhatikan dan menangani lima masalah utama tersebut. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#Dedie Rachim #kawasan tanpa rokok #Forum anak kota bogor