Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengenal Sosok Guntur Santoso, Inisiator FMP yang Rela Jual Harta Demi Merah Putih Berkibar di Kota Bogor

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 5 Agustus 2025 | 17:20 WIB
Guntur Santoso, inisiator sekaligus motor penggerak FMP yang telah berjalan lebih dari satu dekade tanpa jeda.
Guntur Santoso, inisiator sekaligus motor penggerak FMP yang telah berjalan lebih dari satu dekade tanpa jeda.

RADAR BOGOR – Di balik semaraknya Festival Merah Putih (FMP) yang setiap Agustus menghiasi sudut Kota Bogor dengan nuansa nasionalisme, ada sosok yang tak banyak dikenal publik luas, yakni Guntur Santoso.

Guntur Santoso adalah inisiator sekaligus motor penggerak FMP yang telah berjalan lebih dari satu dekade tanpa jeda, bahkan kerap ia biayai sendiri.

Tak tanggung-tanggung, Guntur Santoso yang juga dikenal sebagai pengusaha ini pernah menjual mobil, emas, hingga aset pribadi lainnya.

Ini hanya untuk memastikan Festival Merah Putih tetap berlangsung, meski tanpa sokongan dana besar.

“Buat saya, kegiatan hari ini enggak bisa ditunda. Urusan nanti saya dapat lagi atau tidak, itu urusan Tuhan. Yang penting jalan dulu,” ungkap Guntur saat ditemui Radar Bogor, Selasa 5 Agustus 2025.

Obsesi Guntur pada merah putih bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ayahnya merupakan seorang veteran yang turut memperjuangkan kemerdekaan.

Meski tak mengenyam pendidikan formal kebangsaan, semangat nasionalisme itu menular sejak dini.

“Merah putih itu buat saya warna yang membanggakan. Ia dekat dengan hidup saya sejak kecil. Melalui ayah, saya belajar bahwa mencintai Indonesia bukan hanya soal upacara atau simbol,” tuturnya.

Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sebenarnya sudah dimulai sejak menjadi panitia dalam kegiatan Cap Go Meh awal 2000an. Dari situ ia terus dipercaya menggelar berbagai kegiatan festival.

Pada 2003, Guntur juga mendirikan Red & White Publishing, sebuah penerbit buku yang kini dikenal luas di tingkat nasional.

Obsesinya terhadap merah putih memasuki puncaknya ketika dipercaya ikut merancang pameran benda seni koleksi Istana di Galeri Nasional sebagai bagian dari perayaan bulan kemerdekaan.

Saat itu dia mengaku mendengar keinginan Presiden Joko Widodo agar hari kemerdekaan 17 Agustus dirayakan lebih lama.

Akhirnya gerakan kebangsaan hadir pada 2015, ketika ia bersama sejumlah rekan dari komunitas menginisiasi Festival Merah Putih pertama di Bogor.

Berawal dari kegiatan sederhana seperti lomba sepeda hias dan penyanyi jalanan di kawasan CFD Suryakencana, FMP berkembang menjadi event komunitas tahunan yang kini memiliki belasan kegiatan.

Semua berangkat dari ide masyarakat, yang digelar selama sebulan penuh dari tanggal 1-31 Agustus.

“Festival ini kami rancang tanpa muatan politik. Semua kegiatan murni dari bawah. Komunitas yang datang dengan gagasan, kami fasilitasi. Panitia bukan bos. Kami hanya penyambung,” terang Guntur.

Ia menegaskan, kunci keberlangsungan FMP bukanlah uang, tapi sense of belonging. Semua yang terlibat merasa memiliki. Itulah yang membuat festival ini bertahan sampai tahun ke-10.

“Bahkan Om Ben, teman saya di panitia, setiap Agustus cuti penuh demi FMP. Saya juga setengah cuti. Semua karena semangat yang sama: merah putih,” tambahnya.

Meski begitu, tantangan terbesar tetap soal pendanaan. Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti sekarang, sponsor pun banyak yang menahan diri. Namun bagi Guntur, tidak ada alasan untuk berhenti.

“Kalau perlu, saya jual rumah. Saya enggak takut rugi karena saya anggap ini investasi, bukan pengorbanan. Kalau cuma mikir untung rugi, ya enggak akan ada FMP sampai sekarang,” tegasnya.

FMP memang tak sekadar festival. Ia menjadi ruang silaturahmi warga Bogor lintas usia dan latar belakang.

Ada lomba antar warga, kirab bendera, seni budaya, pameran UMKM, hingga kegiatan kebangsaan lain yang melibatkan TNI-Polri dan berbagai elemen masyarakat.

Kini, memasuki usia FMP yang ke-10, Guntur mulai memikirkan regenerasi. Ia menyadari tak bisa terus memimpin.

Namun ia berharap, nilai-nilai yang telah ditanam tetap hidup.

“Saya hanya ingin anak-anak muda melanjutkan ini. Bukan untuk saya, tapi untuk Indonesia. Karena negara ini kaya raya, tapi sering dimanfaatkan. Kita enggak boleh jadi bangsa yang kalah terus,” pesannya.

Baginya, Festival Merah Putih adalah gerakan kesadaran. Bahwa cinta tanah air bukan slogan.

Dia butuh tindakan, konsistensi, dan keberanian untuk bergerak—meski harus mulai dari komunitas kecil, dan dari kantong pribadi. (uma)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Alpin.
#kota bogor #festival merah putih #FMP