RADAR BOGOR – Di balik megahnya Festival Merah Putih (FMP) Kota Bogor yang digelar saban Agustus, terselip kisah personal penuh makna dari sang Ketua Umum FMP 2025, Benyamin Mbo’oh.
Meski memiliki bisnis yang sedang maju, Benyamin Mbo’oh yang akrab disapa Ben ini rela menanggalkan kesibukan usaha demi merah putih tetap berkibar di semua sudut Bogor.
“Saya ikut FMP karena awalnya saya merasa sendirian di Bogor. Saya butuh teman, butuh saudara,” ungkap Benyamin Mbo’oh kepada Radar Bogor, Selasa (5/8/2025).
Benyamin Mbo’oh merantau ke Bogor pada 2012 demi satu tujuan yaitu pendidikan anak.
Ia menginginkan, masa depan yang lebih baik bagi keluarganya bukan lewat harta, melainkan ilmu.
“Saya bukan orang kaya. Tapi saya ingin mewariskan sesuatu agar anak-anak bisa bertahan hidup. Buat saya, itu pendidikan,” ujarnya.
Pada 2016, bisnisnya melesat. Cabang usaha tumbuh hingga mancanegara.
Namun di tengah puncak karier, ia kehilangan istri tercinta secara mendadak.
“Di situ saya merasa sangat sendiri. Saya sadar terlalu sibuk kerja. Yang melayat cuma segelintir orang. Saya benar-benar hampa,” kenangnya.
Saat itulah Ben mulai berdoa agar dipertemukan dengan keluarga baru di tanah rantau.
Tak lama kemudian, ia bertemu Inisiator FMP, Guntur Santoso dalam rapat orang tua murid di sekolah. Dari pertemuan itulah, jalannya menuju FMP dimulai.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Mobil Hybrid yang Bikin Kantong Tetap Tebal, Menghemat Jutaan Rupiah BBM
Pada 2019, ia diajak Guntur Santoso menjadi panitia FMP.
Saat baru bergabung, ia langsung disodori RAB Festival Merah Putih senilai miliaran.
Namun, saat dua pekan jelang pelaksanaan dana yang terkumpul belum genap 1 persen.
“Saya cuma bisa tertawa heran waktu itu. Tapi ajaibnya, semua bisa jalan. Ini kekuatan kolaborasi,” ucapnya.
Sejak saat itu, Ben menyadari FMP bukan sekadar event, melainkan gerakan kebangsaan yang mengandalkan gotong royong. Ia pun jatuh hati pada nilai-nilainya.
“Awalnya saya kira ini event biasa—bikin acara, dibayar. Tapi FMP justru sebaliknya. Kita yang urunan. Bahkan makan rapat pun bayar sendiri. Tapi justru dari situ saya belajar banyak,” katanya.
Kini, sebagai Ketua FMP 2025, Ben menunda semua kegiatan bisnisnya selama kurang lebih dua bulan untuk persiapan dan pelaksanaan festival.
“Banyak yang kira saya dibayar besar. Padahal tidak sama sekali. Justru kita keluar biaya. Tapi saya tetap di sini karena saya merasa FMP adalah jawaban dari doa saya dulu,” tuturnya.
Ben sendiri tak ingin menyebut dirinya sebagai pengusaha.
Baginya pencapaiannya saat ini hanya sebagai orang yang sedang berusaha.
Usahanya pun dia mulai benar-benar dari bawah.
Dia pernah menjadi loper koran, wartawan, hingga akhirnya mendirikan berbagai media, dari tabloid, majalah, hingga radio.
Saat industri cetak lesu, ia banting setir ke digital.
Ia mendirikan perusahaan multimedia, terinspirasi dari filosofi Bob Sadino.
“Bob bilang, karena saya bodoh, saya pekerjakan orang pintar. Saya juga begitu. Saya bikin perusahaan supaya teman-teman IT yang nganggur bisa kerja,” ucapnya.
Perusahaannya kini bergerak di bidang pengembangan website, iklan radio, pembuatan company profile, pengelolaan media sosial, hingga software engineering.
Namun ketika Agustus datang, semuanya ditinggalkan sejenak untuk FMP.
“Di tahun 2023 pertama kali jadi ketua, bisnis saya sempat macet. Tapi saya enggak kapok. Karena di sini saya dapat keluarga, sesuatu yang enggak bisa dibeli pakai uang,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, FMP bukan soal panggung dan kemeriahan, tapi tentang nilai.
Dia belajar merawat kebangsaan, menumbuhkan nasionalisme, dan menjalin persaudaraan.
“Bogor ini rumah saya. Rezeki keluarga saya juga dari sini. Kita semua punya tanggung jawab merawat rumah ini. FMP adalah cara saya berterima kasih,” tutupnya. (uma)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim