RADAR BOGOR - Permainan Roblox dilarang Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah karena dianggap tak ramah anak.
Namun suara berbeda datang dari kalangan pengguna aktif. Mereka menilai platform gim daring Roblox itu justru memiliki banyak manfaat yang dirasakan.
Suara tersebut datang dari, Muhammad Dzikrul Al Jabbar. Pemuda asal Kota Bogor ini mengaku sudah bermain Roblok sejak duduk dibangku kelas 5 SD. Dalam sehari dia rela menghabiskan waktunya 7 sampai 8 jam.
Bagi dia kegiatannya itu bukanlah satu tindakan yang sia-sia. Arul sapaan akrabnya, justru mengaku mahir bahasa asing berkat berinteraksi dengan pemain dari luar negeri di Roblox.
Ia menilai, kemampuan tersebut berkembang secara alami karena seringnya komunikasi dalam dunia virtual itu.
“Saya lumayan bisa bahasa Inggris karena punya koneksi di Roblox dengan orang luar," kata Arul kepada Radar Bogor, Rabu 6 Agustus 2025.
Tidak hanya soal bahasa, Arul juga merasakan manfaat ekonomi dari Roblox. Ia bekerja sebagai kreator 3D modeling dan ikut terlibat dalam pembuatan gim yang penghasilannya bisa mencapai jutaan rupiah.
“Kalau penghasilan saya sih belum seberapa, sekitar 200-300 ribu per komisi. Kalau kerjaan studio bisa 1-2 juta tergantung jumlah pengunjung di game-nya," jelasnya.
Arul menilai Roblox sebagai metaverse digital yang memberi banyak pilihan aktivitas kreatif dan produktif. Mulai dari membuat gim, menjual aset virtual, hingga trading item digital yang bisa diuangkan.
“Roblox itu metaverse digital, orang bisa bermain, bikin game, jual barang digital, sampai trading item virtual yang hasilnya bisa dollar atau rupiah," kata Arul.
Meski begitu, Arul tak menutup mata terhadap risiko yang mungkin muncul dari Roblox, terutama bagi anak-anak di bawah usia 13 tahun.
Ia menyebut potensi perbuatan tak senonoh bisa terjadi jika akun tidak dikonfigurasi dengan benar dan tanpa pengawasan orang tua.
“Untuk anak 13- mereka bisa dapat perlakuan tidak senonoh dari orang lain yang usianya lebih tua. Orang tua harus protektif dan pantau anaknya, sama seperti medsos lain," ujarnya.
Ia juga menyoroti kebocoran akses pada fitur voice chat yang seharusnya hanya bisa digunakan oleh pengguna 18 tahun ke atas.
Menurutnya, banyak anak menyalahgunakan identitas orang tua untuk mengaktifkan fitur tersebut.
“Aksesnya itu harusnya pakai KTP, tapi masih banyak anak yang pakai KTP orang tua atau kartu identitas lainnya," terang dia.
Sebagai bagian dari komunitas Roblox Indonesia, Arul berharap platform ini dilihat sebagai peluang, bukan sekadar ancaman.
Ia bahkan menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk menciptakan konten edukatif yang aman dan positif.
“Kalau saya berkesempatan ngobrol langsung dengan Mendikdasmen, saya bisa dan mau aja bikin program di Roblox yang positif dan jadi sarana pembelajaran yang terbarukan," pungkasnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin