RADAR BOGOR – Produktivitas kakao nasional terus menurun. Riset terkini menemukan sebagian besar kebun petani kakao berada dalam kondisi rusak, bahkan tidak lagi produktif.
Menyikapi ancaman ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Cocoa Sustainability Partnership (CSP) menggagas pengembangan kebun induk dan benih unggul kakao nasional.
Hal itu mengemuka dalam Lokakarya Nasional Pengembangan Kebun Induk Tanaman Kakao dan Rapat Umum Anggota CSP yang digelar di Gedung Kusnoto BRIN, Jalan Juanda Kota Bogor, Rabu 6 Agustus 2025.
Ketua Dewan Anggota CSP, Ismet Khaeruddin, menegaskan kegiatan ini menjadi momentum penting menyatukan kekuatan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari peneliti, swasta, NGO, hingga petani.
“Kita ingin memperbaiki kebun-kebun petani kakao yang saat ini sebagian besar sudah tidak produktif. Salah satu masalah utama adalah keterbatasan bahan tanam unggul,” ujarnya.
Ismet menyebut, mayoritas kebun kakao di Indonesia masih mengandalkan satu jenis klon (monoklon), padahal untuk menghasilkan buah yang berkualitas dibutuhkan minimal tiga klon. Akibatnya, produktivitas terus merosot dari tahun ke tahun.
“Studi kami bersama universitas di Sulawesi Tengah menemukan sekitar 69 persen kebun berada dalam kondisi rusak sedang hingga berat. Bahkan, sekitar 50 persen kebun sudah tidak bisa berproduksi,” ungkapnya.
Masalah ini diperparah dengan konversi lahan dan tidak adanya peremajaan kebun. Di salah satu wilayah, misalnya, luas kebun kakao berkurang dari 290 hektare pada 2018 menjadi hanya 260 hektare tahun ini.
Meski harga kakao saat ini cukup tinggi, banyak petani tetap kesulitan bertahan akibat minimnya dukungan benih unggul.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Dr. Setiari Marwanto, menegaskan komitmen lembaganya untuk mendukung pembangunan sektor kakao secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kami sedang menyinkronkan kebutuhan pembangunan kebun induk dengan menggandeng para pemangku kepentingan, termasuk petani dan mitra strategis seperti CSP,” tuturnya.
BRIN telah mengembangkan varietas batang bawah unggul seperti RHS1 dan RHS2 yang diklaim mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman.
Benih-benih tersebut tengah diujicobakan di berbagai daerah dan siap untuk diperluas distribusinya.
“Kebun yang sudah tidak produktif atau rusak akibat penyakit tanaman perlu segera diremajakan menggunakan bahan tanam unggul. Ini saat yang tepat untuk rehabilitasi,” kata Setiari.
Meski dihadapkan pada tantangan global, termasuk ekspor dari Amerika Serikat, ia tetap optimistis.
Pasar kakao Indonesia disebut masih menjanjikan, tidak hanya di luar negeri seperti Eropa, India, dan Tiongkok, tetapi juga di dalam negeri yang saat ini kekurangan pasokan.
“Yang terpenting, penguatan sektor kakao nasional harus dilakukan bersama. BRIN akan terus mendorong riset dan membangun kemitraan dari hulu untuk memastikan keberlanjutan industri ini,” pungkasnya. (uma)
Editor : Alpin.