Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Psikolog Soroti Dampak Game Roblox, Orang Tua Diminta Tak Lepas Pengawasan Anak-anak

Alpin. • Rabu, 6 Agustus 2025 | 18:04 WIB
Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi.
Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi.

RADAR BOGOR - Game daring Roblox kian populer di kalangan anak-anak. Namun di balik keseruannya, game tersebut juga menyimpan risiko yang perlu diwaspadai.

Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi angkat bicara terkait fenomena ini.

Psikolog senior asal Bogor yang akrab disapa Retno itu menyebut, Roblox memang menawarkan berbagai sisi positif.

Namun, risiko psikologis dan keamanan tak boleh diabaikan.

“Menurut saya, Roblox menawarkan stimulasi kreativitas, imaginasi, dan relasi sosial, namun ada risiko psikologis dan keamanan yang perlu diperhatikan,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 6 Agustus 2025.

Retno menjelaskan, secara positif Roblox merupakan media hiburan yang menyenangkan.

Anak-anak bisa mengatasi stres, mengasah kreativitas melalui fitur pembuatan game dan interaksi sosial.

Tak jarang, anak-anak menganggap Roblox sebagai aktivitas sosial yang menyenangkan.

“Banyak anak menyebut Roblox sebagai aktivitas sosial yang membangun kebersamaan dan pengalaman positif bersama teman sebaya,” lanjutnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa game ini juga memiliki efek negatif yang tak sedikit.

Salah satunya adalah dampaknya terhadap kemampuan regulasi emosi anak.

“Roblox dapat berdampak buruk pada kemampuan regulasi emosi, anak kesulitan mengontrol emosi. Selain itu, fenomena seperti perundungan siber (cyberbullying), sangat mungkin terjadi,” kata Retno.

Menurutnya, Roblox tidak sepenuhnya aman untuk anak-anak, terutama jika dimainkan tanpa pengawasan.

Dia menyebut risiko kecanduan, paparan konten tidak pantas, serta interaksi bebas dengan orang asing melalui fitur chat.

“Roblox memang telah membatasi fitur chat untuk anak-anak di bawah 13 tahun, namun risiko keamanan tetap ada. Sehingga keterlibatan langsung orang tua, peningkatan literasi digital anak, dan regulasi yang ketat sangat dibutuhkan pada anak-anak pengguna Roblox,” ungkapnya.

Ia mencatat bahwa sejak 18 November 2024, Roblox telah resmi memberlakukan batasan usia ketat.

Anak di bawah 13 tahun kini tidak bisa lagi mengakses sebagian besar fitur, termasuk ruang sosial dan kreasi bebas.

“Dari profesional menganjurkan bahwa Roblox sebaiknya dimainkan oleh anak usia minimal 10 tahun ke atas, dengan pengawasan orang tua yang ketat, mengingat potensi risiko konten dan interaksi yang tidak aman. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pembatasan waktu layar bagi anak-anak, khususnya untuk anak berusia di bawah 5 tahun,” jelasnya.

Lebih jauh, Retno menguraikan berbagai pengaruh Roblox terhadap perilaku dan pola pikir anak.

Mulai dari kesulitan regulasi emosi, cyberbullying, paparan konten kekerasan atau pornografi, hingga potensi kecanduan yang mengganggu aktivitas harian.

“Fitur chat yang ada, memungkinkan interaksi dengan orang asing. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko pelecehan, eksploitasi, dan transaksi pembelian tidak sengaja. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan perilaku anak,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga menyebut adanya larangan dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia terkait permainan ini di kalangan murid SD.

“Dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia, larangan murid SD bermain Roblox karena kekhawatiran akan konten kekerasan yang dapat memicu perilaku agresif anak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Retno menyampaikan, meskipun belum ditemukan penelitian khusus mengenai dampak Roblox, berbagai temuan di lapangan menunjukkan efek negatif yang signifikan.

Beberapa di antaranya seperti kecanduan, obsesi, hingga gejala FOMO (fear of missing out).

“Kecemasan, depresi, dan menurunnya rasa percaya diri yang dipicu oleh perbandingan avatar, cyberbullying, serta paparan konten kekerasan dan simbol ekstrem,” terang Retno.

Ia mengimbau orang tua untuk melakukan langkah preventif guna meminimalisir risiko, seperti mengaktifkan parental control, membatasi waktu bermain, serta membangun komunikasi terbuka dengan anak.

“Perlindungan preventif dari orang tua tetap menjadi kunci utama untuk menjaga anak-anak tetap aman dan sehat dalam menggunakan Roblox,” tandasnya.(cr1)

Penulis: Muhammad Ali

Editor : Alpin.
#game roblox #pengawasan anak #psikolog