RADAR BOGOR - Realisasi sistem parkir digital di Kota Bogor hingga kini belum menemui titik terang. Pemkot Bogor masih melakukan pengkajian untuk merealisasikan wacana tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto mengatakan salah satu pertimbangan yang membuat rencana sistem pakir digital tersebut belum dilakukan ialah nasib para Juru Parkir (Jukir).
Sujatmiko menjelaskan, para Jukir juga harus mendapatkan pekerjaan. Tapi kalaupun mereka diperbantukan untuk penjaga mesin parkir digital, ini akan menjadi hal yang sangat riskan.
“Mereka bisa digaji lewat situ, tapi mereka juga bisa saja tidak memasukan retribusi parkir ke sistem, kan ini sangat bahaya juga. Disitu operatornya terbuka, mau memasukan atau tidak jadi suka suka dia,” jelas Sujatmiko.
Kondisi ini seperti halnya yang terjadi pada skema parkir digital di Suryakencana. Tidak sedikit para jukir yang nakal, lantaran tidak memasukan retribusi ke sistem yang sudah ditetapkan.
“Malah los pendapatan. Sehingga tidak optimal. Memang agak beda kalau street parking itu harus hati-hati,” beber Sujatmiko.
Skema parkir digital akan lebih mudah direalisasikan jika tempatnya indor. Sebab langkah ini bisa menggunakan palang pintu sebelum pengguna kendaraan berpindah tempat.
“Tapi kalau yang di luar orang yang bayar parkir kan belum tentu mau buka Qris untuk bayar parkir dua ribu,” ujar Sujatmiko pada Radar Bogor Senin 11 Agustus 2025.
Disisi lain, Sujatmiko sangat mendukung rencana sistem parkir digital ini. Pihaknya pun berjanji akan membuat formula yang dapat menguntungkan berbagai pihak.
Pertama kenyamanan warga saat memarkirkan kendaraannya. Kemudian nasih Jukir juga bisa terakomodir. Dan yang ketiga dapat memberikan sumbangan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Jadi memang mesti hati-hati dalam membuat formulanya. Kami tidak mau hanya cuap-cuap saja. Semua pihak harus dapat merasakan manfaatnya. Kami akan kaji se optimal mungkin,” pungkasnya. (rp1)