RADAR BOGOR – Wisata Kebangsaan yang menjadi rangkaian Festival Merah Putih (FMP) 2025 resmi berakhir, Jumat 15 Agustus 2025.
Penutupan kegiatan ini terasa istimewa karena diikuti 50 siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dari salah satu sekolah di kawasan Yasmin, Kota Bogor.
Sejak 11 Agustus lalu, Wisata Kebangsaan di Pusat Kebangsaan Balai Kirti, Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, diikuti 20 sekolah.
Setiap hari, lima sekolah bergantian hadir, masing-masing mengirimkan 50 siswa.
Mereka diajak menyusuri perjalanan setiap presiden Indonesia, mengenal kisah kepemimpinan, hingga menyimak peran para tokoh bangsa.
Ketua Umum FMP 2025, Benyamin Mbooh, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar mengenalkan profil presiden dari masa ke masa, tetapi juga menanamkan inspirasi bagi generasi muda, termasuk siswa ABK.
“Masa depan bangsa ini ada di tangan generasi mereka. Dengan belajar sejarah para presiden, harapannya mereka bisa bermimpi dan memikirkan peran mereka di masa depan,” ujarnya.
Khusus bagi siswa ABK, kegiatan didampingi guru pembimbing yang menerjemahkan informasi dengan bahasa isyarat.
FMP juga membagikan block note kosong agar setiap peserta menulis inspirasi, harapan, dan cita-cita mereka setelah kunjungan.
“Siapa tahu, hari ini mereka datang belajar dari para pemimpin, suatu saat mereka yang jadi pemimpin,” tambah Benyamin.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor, Rakhmawati, yang hadir di penutupan, mengaku bangga dengan antusiasme siswa ABK.
Mereka terlihat senang sekali, bahkan fokus mengikuti kegiatan sampai selesai.
"Momen seperti ini sangat dibutuhkan untuk membangkitkan rasa kebangsaan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan serupa perlu diperluas agar menjangkau anak-anak di wilayah pinggiran Kota Bogor.
Sebab Bojongkerta, Rancamaya, Tanah Sareal, Kayumanis—jarang punya kesempatan seperti ini. "Ke depan, kami ingin mereka juga ikut,” ucapnya.
Selain di Balai Kirti, FMP juga menyiapkan agenda serupa di Museum PETA untuk 1.000 anak.
Tujuannya tetap sama yaitu menanamkan rasa kebangsaan dan memberi ruang setara bagi semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, untuk bermimpi menjadi pemimpin bangsa.(rp1)
Editor : Alpin.