Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Diterpa Isu Pungli, Begini Transformasi Kebun Raya Bogor Usai Dikelola Pihak Swasta

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 19 Agustus 2025 | 20:31 WIB
General Manager Corporate Communication PT MNR, Zaenal Arifin saat menjelaskan mengenai tuduhan pungli di Kebun Raya Bogor.
General Manager Corporate Communication PT MNR, Zaenal Arifin saat menjelaskan mengenai tuduhan pungli di Kebun Raya Bogor.

RADAR BOGOR – Isu dugaan pungutan liar atau pungli yang sempat viral di jagat maya baru-baru ini kembali menyorot wajah Kebun Raya Bogor (KRB).

Cerita yang beredar di media sosial menyebutkan ada rombongan pengunjung Kebun Raya Bogor, yang diminta membayar tambahan biaya oleh petugas keamanan.

Meski kabar tersebut dibantah pihak pengelola Kebun Raya Bogor, riuh di dunia maya membuat publik kembali menaruh perhatian pada salah satu ikon bersejarah Kota Hujan ini.

Sejak resmi beralih pengelolaan ke PT Mitra Natura Raya (MNR) pada 2020, Kebun Raya Bogor memang mengalami banyak perubahan.

Transformasi dilakukan dengan tujuan menyeimbangkan fungsi wisata, edukasi, dan konservasi yang selama ini melekat pada kebun botani yang sudah berusia lebih dari dua abad itu.

Salah satu perubahan besar adalah kebijakan pembatasan mobil pribadi yang sebelumnya bisa leluasa berkeliling di dalam area kebun.

Kini, kendaraan bermotor sudah tidak lagi diperkenankan masuk, digantikan dengan transportasi non-emisi berupa mobil listrik.

“Alhamdulillah, sampai sekarang Kebun Raya lebih tertata, lebih rapi, dan tidak ada lagi polusi udara dari kendaraan bermotor,” ujar General Manager Corporate Communication PT MNR, Zaenal Arifin.

Perbedaan itu cukup terasa. Dulu, pengunjung kerap mengeluh soal lalu lintas kendaraan yang membuat suasana wisata terasa sesak.

Kini, jalan setapak lebih nyaman dilalui pejalan kaki maupun pesepeda.

Pengelola juga menyediakan pilihan kendaraan ramah lingkungan dengan tarif tertentu, dari shuttle bus, sepeda keranjang, hingga mobil golf.

Selain penataan transportasi, KRB kini juga menawarkan pengalaman baru lewat taman-taman tematik.

Hingga saat ini, ada lebih dari 12 taman yang sudah dibuka, termasuk Taman Begonia, Taman Nepenthes, hingga Taman Tumbuhan Quran.

Fasilitas ini jelas berbeda dengan dulu, ketika pilihan ruang tematik masih terbatas dan pengunjung hanya berkeliling di hamparan koleksi pohon dan tanaman klasik.

“Artinya, pengunjung tidak hanya datang untuk berekreasi, tetapi juga mendapatkan nilai edukasi dan religius,” tambah Zaenal.

Kebun Raya Bogor juga semakin gencar dalam fungsi edukasi. Aturan-aturan yang dulu jarang ditegakkan kini lebih ketat disosialisasikan.

Misalnya larangan membuang sampah sembarangan, membawa makanan berlebihan, hingga menyentuh dan merusak tanaman.

Papan peringatan dipasang di banyak titik, sementara kanal digital resmi dipakai untuk mengedukasi pengunjung. Meski begitu, tantangannya tidak ringan dengan jumlah kunjungan yang bisa mencapai dua juta orang per tahun.

KRB sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan pada 1817 oleh Caspar Georg Carl Reinwardt sebagai ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg, kini kebun botani ini berdiri di atas lahan seluas 87 hektare dan menjadi rumah bagi lebih dari 15 ribu koleksi spesies tumbuhan.

Dari masa ke masa, statusnya bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam terbuka untuk penelitian, konservasi, dan pendidikan.

Dari sisi tiket masuk, setelah pengelolaan beralih, tarif disesuaikan mengikuti peraturan pemerintah (PP) PP Nomor 62 tahun 2021 menjadi Rp15.500 pada hari biasa dan Rp25.500 pada akhir pekan atau libur nasional.

Tiket masuk ini kemudian masuk kedalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BRIN kepada negara

Harga fasilitas tambahan pun kini lebih beragam, mulai dari shuttle bus Rp25 ribu per orang, sepeda keranjang Rp25 ribu per jam, hingga mobil golf Rp300 ribu per jam.

PT MNR sendiri meraup keuntungan lewat penyewaan fasilitas tambahan ini.

“Penetapan harga tiket mengacu pada regulasi pemerintah, sesuai peraturan yang berlaku. Lalu fasilitas adalah potensi keuntungan untuk kami sebagai pengelola,” jelas Zaenal.

PT Mitra Natura Raya sendiri merupakan perusahaan yang bekerja sama dengan BRIN dalam mengelola empat kebun raya besar di Indonesia, yakni Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Eka Karya Bali.

Melalui skema kerja sama ini, MNR diberi mandat untuk mengembangkan layanan publik, memperluas akses edukasi, serta menambah fasilitas wisata dengan tetap berpijak pada regulasi pemerintah.

Meski diwarnai sorotan publik terkait isu pungli, pihak MNR menegaskan komitmennya untuk terus berbenah.

Inovasi baru akan terus diluncurkan berdasarkan evaluasi dari kebijakan-kebijakan sebelumnya.

"Harapannya, Kebun Raya Bogor tidak hanya dikenal sebagai ruang hijau bersejarah di tengah kota, tetapi juga sebagai simbol kolaborasi antara konservasi, edukasi, dan pariwisata modern," tutup Zaenal. (uma)

Editor : Alpin.
#PT Mitra Natura Raya #pungli #kebun raya bogor