RADAR BOGOR - Warga Kota Bogor diimbau untuk mulai menyiapkan tas siaga, karena wilayah ini tersegmentasi dengan jalur Sesar Citarik.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan menyiapkan tas siaga sebagai bentuk mitigasi bencana akibat ulah Sesar Citarik.
Warga dimintanya harus neningkatkan kesadaran terhadap dampak yang akan terjadi akibat Sesar Citarik.
“Sebagai Kota yang berada dalam jalur Sesar Citarik maka kita harus selalu mewaspadai resiko ini. Siapkan Ransel atau Tas Siaga Bencana sebagai antisipasi,” ujar Dedie.
Dedie menerangkan pembangunan infratruktur di wilayahnya juga akan diperhitungkan.
Apalagi aktivitas Sesar Citarik ini berpotensi memiliki getaran yang cukup besar.
“Iya termasuk juga memperhitungkan langkah teknis meminimalisir dampak dalam pembangunan infrastruktur,” terang Dedie saat dihubungi Radar Bogor, Selasa (25/8/2025) sore.
Sosialiasi terhadap bahaya dari Sesar Citarik digaransi Dedie akan terus dilakukan.
Bagi masyarakat yang sudah mengetahui informasi soal Sesar Citarik diharap pula untuk membantu pemerintah dalam melakukan edukasi kepada kelurga terdekat.
“Kami terus ingatkan kepada warga, harus mempersiapkan skenario terburuk bila hal itu terjadi. Mempersiapkan informasi yg cukup kepada anggota keluarga,” papar Dedie saat dikonfirmasi lebih lanjut.
Diinformasikan sebelumnya Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr Daryono menjelaskan Sesar Citarik memiliki orientasi Utara Barat Daya hingga Timur Laut. Mekanisme geser sesar ini mengiri.
Dan segmentasinya memanjang dari Pelabuhan Ratu, Bogor hingga Bekasi.
“Sesar ini diperkirakan telah aktif sejak belasan juta tahun lalu dan masih aktif hingga saat ini dengan mekanisme berupa sesar geser/mendatar mengiri (sinistral strike slip),” jelas Daryono.
Aktivitas Sesar Citarik disebut Daryono berpotensi menimbulkan gempa yang cukup kuat.
Wilayah-wilayah yang dilintasi jalur sesar ini mesti waspasa. Pembangunan infratsruktur di wilayah tersebut harus diperhitungkan dengan matang.
Ada beberapa bangunan sentral di Kota Bogor yang pernah rusak akibat ulah aktivitas Sesar Citarik ini.
Peristiawa tersebut seperti halnya yang pernah terjadi pada tanggal 11 Oktober 1838 silam.
“Gempa saat itu mencapai skala intesitas VIII MMI (rusak berat) hingga IX MMI (rusak sangat berat) yang menyebabkan banyak rumah dan bangunan tembok di Batavia dan Istana Bogor rusak, diduga pemicunya adalah Sesar Citarik,” ujar Daryono.
Gempa Bumi yang melanda wilayah Sukabumi dan Bogor pada tanggal 14 Juni 1900 lalu juga diduga kuat akibat aktivitas Sesar Citarik. Tahun 1975 sesar ini juga kembali berulah.
“Dan ini sering terjadi ditahun-tahun berikutnya, seperti 12 Juli 2000, 10 Maret 2020 (M5,0) dan terakhir adalah gempa merusak di Bogor pada 10 April 2025 yang lalu dengan magnitudo (M4,1),” terang Daryono.
Daryono menuturkan pergerakan tanah pada April lalu meruapakan jenis genla tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake).
Episenternya terletak di Kota Bogor pada titik koordinat 6.62 LS dan 106.8 BT.
Kedalaman gempa saat itu mencapai hiposenter 5Km. Daryono menyebut ada beberapa bukti bahwa insiden itu dipicu akibat ulah Sesar Citarik yang hingga saat ini masih aktif.
“Buktinya yaitu tampak pada bentuk gelombang gempa. Hasil catatan Sensor Gempa di Darmaga dan di Citeko dengan karakteristik gelombang geser yang kuat dengan komponen frekuensi tinggi,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Daryono menjelaskan gempa yang terjadi pada April lalu juga sempat terdengar suara gemuruh.
Itu menjadi bukti bahwa gempa memiliki kedalaman sangat dangkal.
Pergerakan Sesar Citarik ini disebut Daryono akan sangat mudah merusak bangunan yang berada pada tanah lunak atau lepas. Sehingga hal ini mesti menjadi perhatian pemerintah yang wilayahnya dilintasi Sesar Citarik.(rp1)