RADAR BOGOR – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bogor, berdiri sebuah bangunan tua bergaya kolonial di Jalan Ir. H. Juanda, Kecamatan Bogor Tengah.
Bangunan ini menyimpan sejarah panjang tentang tanah dan pertanian Indonesia.
Bangunan yang dibangun pada 1905 ini awalnya merupakan laboratorium penelitian tanah peninggalan Belanda.
Lebih dari seabad kemudian, tempat ini bertransformasi menjadi Museum Tanah dan Pertanian atau yang dikenal dengan MUSTANI.
Tempat ini pertama kali berdiri pada 29 September 1988 oleh Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan ISRIC Belanda.
Setelah sempat tertutup dan kurang terawat, museum kembali mendapat perhatian.
Pada 5 Desember 2017, bertepatan dengan Hari Tanah Sedunia, Menteri Pertanian Amran Sulaiman meresmikan Museum Tanah di gedung bersejarah itu.
Dua tahun berselang, tepatnya 22 April 2019, Amran kembali menandatangani prasasti peresmian museum kedua di lokasi yang sama yaitu Museum Pertanian.
Dua museum ini kemudian disatukan pada 3 Maret oleh Menteri Pertanian saat itu Syahrul Yasin Limpo.
Penggabungan ini sebagai bentuk penegasan komitmen pemerintah terhadap pelestarian aset sejarah agraria Indonesia.
Kini, MUSTANI menjadi salah satu ikon edukasi sekaligus wisata di Kota Bogor.
Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi tanah dari seluruh Nusantara, peta, alat survei, hingga diorama sejarah pertanian.
Di sisi lain, museum ini juga menghadirkan sejumlah galeri seperti Galeri Tanah, Iklim, dan lingkungan yang menyimpan koleksi batuan dan tanah.
Galeri peternakan yang menampilkan peralatan dan teknologi pertanian, Galeri Pertanian masa depan yang berisi teknologi yang disiapkan untuk masa depan seperti drone penyemprot tanaman dan energi biodiesel.
Ada pula galeri pangan dan peradaban yang menampilkan sejarah pertanian, video edukatif.
Tak hanya itu, tempat ini juga memiliki rooftop garden yang bisa dinikmati dari lantai atas.
Kepala Museum Tanah dan Pertanian, Anes Nasrullah, menegaskan keberadaan museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda koleksi. Museum ini adalah media edukasi tentang perjalanan pertanian Indonesia.
"Di sini masyarakat bisa belajar bagaimana pertanian berkembang dari masa prasejarah hingga era modern,” ujarnya saat Forum Konsultasi Publik di Gedung 8 Lantai 2, Kamis (28/8/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Anes juga menyampaikan pentingnya peningkatan kualitas layanan.
Mereka ingin MUSTANI menjadi museum yang ramah pengunjung, terbuka, dan terus berinovasi.
"Forum ini adalah upaya kami mendengar langsung masukan publik agar pelayanan lebih prima,” tambahnya.
Tak hanya menjadi ruang belajar, museum yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini juga terbuka untuk wisatawan.
Tiket masuknya gratis, dengan jam operasional setiap Selasa hingga Jumat pukul 09.00–15.00 WIB, serta Sabtu pukul 09.00–12.00 WIB.
Museum tutup pada Senin, Minggu, dan hari libur nasional. Pengunjung bisa menggunakan jasa tour guide untuk berkeliling museum.
Lalu bagi kunjungan kelompok, pihak museum menyediakan layanan reservasi melalui WhatsApp resmi.
Bagi warga Bogor maupun wisatawan yang ingin memahami perjalanan tanah dan pertanian di Indonesia, MUSTANI hadir sebagai destinasi yang lengkap.
Mengunjungi museum ini sama halnya dengan menapak tilas sejarah panjang agraris bangsa sekaligus melihat arah masa depan pertanian Indonesia. (uma)
Editor : Alpin.