RADAR BOGOR – Indonesia kaya akan tanaman herbal, namun pemanfaatannya sebagai obat berbasis ilmiah masih terbatas.
Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB University, Prof Mega Safithri, menegaskan peluang besar pengembangan obat herbal, khususnya untuk penderita diabetes mellitus (DM).
“Dengan kajian ilmiah mengenai toksisitas, keamanan, dan efikasi, obat herbal bisa lebih dipercaya masyarakat,” kata Prof Mega saat menyampaikan Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu 30 Agustus 2025.
Dalam risetnya, Prof Mega dan tim menemukan senyawa aktif pada sejumlah tanaman herbal.
Sirih merah mengandung piperine dan piperanine, jahe merah kaya gingerol, sementara kayu manis memiliki sinamaldehid dan asam sinamat.
Senyawa tersebut terbukti berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah dan meredakan inflamasi pada penderita diabetes.
Sejak 2005, riset herbal antidiabetes ini dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai uji in silico (simulasi komputer), in vitro (laboratorium), hingga in vivo pada hewan coba.
Hasilnya melahirkan produk Sijakar, kombinasi ekstrak etanol 70% dari daun sirih merah, jahe merah, dan kayu manis.
Riset menunjukkan Sijakar mampu menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabetes, bahkan setara dengan obat standar glibenklamid.
Tak hanya itu, Sijakar juga membantu menurunkan kadar trigliserida sehingga bermanfaat mengontrol komplikasi diabetes.
“Uji toksisitas membuktikan Sijakar aman dikonsumsi dalam dosis yang sudah diuji,” jelas Prof Mega.
Produk ini sudah dikomersialisasikan sejak 2022 bersama mitra industri PT Nano Herbaltama Indonesia, meski izin edar resmi dari BPOM masih menunggu kelengkapan dokumen.
Prof Mega mengungkapkan, meski kaya biodiversitas, Indonesia masih tertinggal jauh dalam paten tanaman obat.
Data WIPO 2023 mencatat Indonesia baru memiliki 152 paten, jauh dibanding China yang mencapai lebih dari 14 ribu.
Sementara itu, jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat.
Tahun 2024 tercatat 20,4 juta orang, dan diprediksi melonjak menjadi 28,6 juta orang pada 2050.
Menariknya, sekitar 35,7 persen penderita DM sudah menggunakan pengobatan alternatif herbal.
Melihat kondisi tersebut, Prof Mega optimistis Indonesia bisa menjadi pusat riset dan investasi obat herbal dunia dalam 10 tahun ke depan.
“Dengan dukungan pemerintah, industri, dan riset kolaboratif, ribuan paten obat herbal berbasis ilmiah bisa lahir dari Indonesia,” pungkasnya. (uma)
Editor : Alpin.