Seminar Internasional di Kota Bogor Jadi Ruang Pertukaran Ilmu Lintas Negara, Dedie Rachim: Pentingnya Kolaborasi
Kholikul Ihsan• Rabu, 3 September 2025 | 08:04 WIB
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim bersama para mahasiswa peserta seminar internasional.
RADAR BOGOR - Kota Bogor kembali menjadi tuan rumah pertemuan akademik berskala internasional melalui seminar internasional.
Melalui kolaborasi antara Universitas Nusa Bangsa dan Universitas Putra Malaysia digelar International Seminar On Government and Civilization V yang berlangsung di Auditorium Universitas Nusa Bangsa, Jalan Sholeh Iskandar, Selasa, 2 September 2025.
Dengan mengangkat tema “Cross Civilization in The Industrial Revolution 5.0: Politics, Science, and Environmental Sustainability”, kegiatan ini menjadi ruang tukar pemikiran lintas negara, disiplin ilmu, hingga budaya.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, yang hadir membuka acara, menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya agenda internasional ini.
Menurutnya, seminar bukan hanya bernilai akademis, melainkan juga menjadi jembatan diplomasi antara Indonesia dan Malaysia.
“Pertemuan ini menjadi simbol persaudaraan dua bangsa serumpun di ASEAN. Kehadiran peserta dari Malaysia memperlihatkan betapa pentingnya kolaborasi dalam menjawab tantangan era Revolusi Industri 5.0,” ujar Dedie.
Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi global saat ini mulai dari transformasi digital, tata kelola pemerintahan, perubahan iklim, hingga isu keberlanjutan pembangunan.
“Kontribusi akademik di forum ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi kebijakan politik dan pembangunan berkelanjutan yang lebih inklusif,” tambahnya.
Akademisi Malaysia: Bogor Kota Aman untuk Pertemuan Global
Sementara itu, Ketua rombongan Universitas Putra Malaysia, Prof. Madya Mohm Mahadee Bin Ismail, mengungkapkan rasa kagumnya atas antusiasme penyelenggaraan seminar ini.
Ia juga menilai Kota Bogor sebagai kota yang aman dan kondusif untuk mengadakan pertemuan internasional.
“Kami melihat aspirasi masyarakat Indonesia yang dinamis adalah hal wajar dalam demokrasi. Justru ini menandakan keterbukaan. Dari Bogor, kami ingin melanjutkan jejaring bukan hanya di bidang akademik, tetapi juga sektor lain yang dapat memperkuat daya saing Malaysia dan Indonesia di Asia,” jelasnya.
Prof Madya menekankan bahwa kerja sama ini sejalan dengan peran penting Indonesia yang saat ini memegang tanggung jawab di kepengurusan ASEAN, sehingga menjadi momentum menggalakan hubungan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
Pertukaran Gagasan untuk Kebijakan Publik dan Sains Berkelanjutan
Dari pihak tuan rumah, Prof. Ucu Cahyana, Wakil Rektor I Universitas Nusa Bangsa, menegaskan bahwa seminar internasional kali ini fokus membahas keterkaitan antara politik, ilmu pengetahuan, dan isu lingkungan.
“Sains, politik, dan lingkungan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Justru harus saling menopang. Dari forum ini, kami berharap lahirnya rekomendasi dan solusi yang bisa diimplementasikan dalam kebijakan negara maupun kebijakan internasional,” ungkap Ucu.
Wakil Rektor I Universitas Nusa Bangsa itu berharap kegiatan ini menghasilkan ide, gagasan, hingga inovasi yang dapat memberi dampak konkret pada pembangunan berkelanjutan, baik di level nasional maupun global.***