RADAR BOGOR – Kasus bullying di Kota Bogor terus menunjukkan tren kenaikan. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), sepanjang 2025 terdapat 97 kasus bullying.
Angka kasus bullying ini meningkat sekitar 15 persen setiap tahun sejak 2019 yang hanya tercatat 40 kasus.
Ketua Yayasan Rumah Kedua, Dewi Puspasi, menilai kegiatan anti bullying di sekolah sebenarnya sudah banyak dilakukan.
Namun, angka kasus masih stabil, tidak banyak perubahan. Salah satu penyebabnya karena masih banyak siswa belum teredukasi dengan baik.
“Siswa tidak menyadari percakapan sehari-hari bisa berdampak besar bagi teman. Saya sampaikan kepada siswa, ketika kita dibully atau dihina, pasti sakit. Karena itu kita harus sepakat untuk tidak membully, tidak mengejek, dan saling menyayangi,” tegas Dewi.
Ia menjelaskan, penanganan korban bullying biasanya dilakukan di sekolah atau oleh tim pendamping.
Jika membutuhkan bantuan lebih lanjut, kasus akan ditangani DP3A dengan program konseling. Pihaknya juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan.
“Data yang tidak tercatat juga banyak. Karena itu tindakan preventif sangat penting agar jumlah kasus tidak terus meningkat,” katanya.
Salah satu cara terbaru yang ditempuh adalah lewat program My Buddy Stop Bullying. Program ini membantu menumbuhkan kepedulian dan empati anak lewat permainan kartu.
Satpol PP meluncurkan program tersebut bersama Yayasan Rumah Kedua di SMPN 8 Kota Bogor, Selasa 9 September 2025. Kick Off diikuti sekitar 230 siswa.
“Harapannya, sekolah-sekolah lain bisa mendukung program ini sehingga mampu menekan angka bullying,” jelas Dewi.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menambahkan, upaya pencegahan tidak bisa hanya ditujukan kepada siswa.
Semua perangkat daerah harus ikut mencegah bullying. Sebab nullying merusak mental anak dan menghambat proses belajar
“Giat ini tidak cukup hanya menekankan siswa untuk tidak membully, tapi juga harus ada pembinaan untuk keluarga dan guru,” ucapnya.
Selain kasus bullying, Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat ada 185 kasus baru HIV/AIDS sepanjang 2025.
Dari jumlah itu, 11 di antaranya dialami remaja usia 14–19 tahun. Meski tidak bisa dipastikan ada kaitannya dengan bullying, Jenal menilai keduanya punya keterkaitan tidak langsung.
“Bullying bisa membuat anak rendah diri, depresi, dan sulit terbuka. Ini menjadi faktor domino yang berbahaya,” kata Jenal.
Dengan program My Buddy Stop Bullying, Pemkot Bogor berharap angka kasus bisa ditekan. Edukasi masif di sekolah diharapkan melahirkan generasi pelajar yang saling menghargai, sekaligus mencegah masalah sosial dan kesehatan di kalangan remaja. (uma)
Editor : Yosep Awaludin