RADAR BOGOR – Aula SMPN 8 Kota Bogor siang itu dipenuhi ratusan siswa. Mereka bermain kartu edukasi, saling menjelaskan makna gambar, lalu menyusunnya menjadi sebuah cerita.
Aktivitas sederhana ini bukan sekadar permainan. Kata dan gambar yang tertulis di kartu memiliki pesan tersirat, mengajak siswa bercerita dan menghentikan perundungan atau bullying di sekolah.
Contohnya, siswa diberikan kesempatan mengambil empat kartu. Satu kartu bergambar dan tiga lainnya tertulis kata.
Siswa kemudian menjelaskan setiap kata yang ada di kartu lalu menyusun kalimat yang menggambarkan kartu bergambar yang dimiliki.
Astrid dan Zahra, siswi kelas 8 SMPN 8, merasakan manfaat langsung dari program ini. Mereka mengaku jadi belajar empati dan peduli.
“Kalau lihat teman dibully, hati ingin menolong, tapi kadang masih takut. Dengan program ini, kita lebih berani,” kata Zahra.
Astrid menambahkan, permainan edukasi membuat siswa saling memahami perasaan teman. Karena siswa diajak bercerita dengan kartu yang dibagikan. “Belajarnya seru. Kita bisa curhat juga,” ujarnya.
Program bertajuk My Buddy Anti-Bullying ini diluncurkan Satpol PP Kota Bogor bersama Yayasan Rumah Kedua, Selasa 9 September 2025.
Kegiatan ini menjadi langkah implementasi Perda 1/2021 tentang Ketertiban Umum dan Perda 3/2025 tentang Pencegahan Kekerasan di Dunia Pendidikan.
Ketua Yayasan Rumah Kedua, Dewi Puspasi, menjelaskan pentingnya sinergi lintas lembaga. Mereka berkolaborasi dengan Satpol PP, DP3A, Dinas Kesehatan, dan para donatur untuk menggelar kegiatan ini.
“Tujuannya agar gerakan anti-bullying tidak hanya berhenti di satu sekolah, tetapi meluas ke seluruh Kota Bogor,” ucapnya.
Ia menambahkan, penanganan kasus biasanya dimulai di sekolah. Jika korban membutuhkan pendampingan lebih lanjut, pihaknya bekerja sama dengan DP3A yang memiliki layanan konseling.
“Kami juga menggandeng Dinas Kesehatan karena bullying berdampak pada kesehatan mental dan fisik anak,” tambah Dewi.
Data yang dihimpun Rumah Kedua dari DP3A menunjukkan kasus bullying di Kota Bogor terus naik.
Tahun 2019 tercatat 40 kasus, dan pada 2025 jumlahnya mencapai 97 kasus. Kenaikannya rata-rata 15 persen setiap tahun. Sebagian besar berupa kekerasan verbal.
“Adanya program ini membuat mereka punya ruang untuk belajar sembari menumbuhkan kepedulian dan empati kepada sesama,” jelasnya.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, yang hadir dalam acara, menegaskan bullying tidak boleh dianggap sepele.
Banyak siswa tidak sadar kata-kata bisa melukai. Dampaknya merusak mental anak, bahkan menghambat proses belajar.
Menurut Jenal, pencegahan tidak cukup hanya menyasar siswa. Keluarga dan guru juga perlu pembinaan.
Semua perangkat daerah harus menjalankan tupoksinya. “Kalau tidak, bullying akan terus jadi masalah,” tegasnya.
Jenal juga menyinggung masalah lain yang berkaitan dengan kerentanan remaja. Data Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat 185 kasus HIV/AIDS baru tahun ini, 11 di antaranya dialami remaja usia 14–19 tahun.
Meski tidak bisa dipastikan terkait langsung dengan bullying, fenomena ini dinilai memiliki kaitan tidak langsung.
“Bullying membuat anak rendah diri, bingung harus cerita ke siapa. Kalau dibiarkan, bisa memicu masalah yang lebih berat,” ucapnya.
Pemkot Bogor bersama Yayasan Rumah Kedua pun berharap My Buddy bisa diperluas ke sekolah lain. Dengan begitu angka bullying bisa mengalami penurunan.
“Ini ikhtiar agar kasus bullying tidak terus meningkat. Hasilnya tentu kita serahkan pada Allah SWT,” tutup Jenal. (uma)
Editor : Yosep Awaludin