Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Manusia dan Orangutan Bisa Hidup Berdampingan, Ini Alasannya Menurut Dosen Sekolah Pascasarjana Unpak Bogor

Muhammad Ruri Ariatullah • Selasa, 9 September 2025 | 21:45 WIB
Kegiatan Belantara Learning Series Episode 13, dengan tema “Peluang Koeksistensi Dalam Upaya Konservasi Orangutan Tapanuli” pada Kamis, 4 September 2025.
Kegiatan Belantara Learning Series Episode 13, dengan tema “Peluang Koeksistensi Dalam Upaya Konservasi Orangutan Tapanuli” pada Kamis, 4 September 2025.

RADAR BOGOR - Pada 2023, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) telah mempublikasikan dokumen panduan tentang konflik dan koeksistensi manusia-satwa liar.

Tujuan utamanya adalah untuk menjelaskan berbagai langkah komprehensif dan efektif yang harus dipertimbangkan sebelum penerapan penanganan konflik dan koeksistensi manusia-satwa liar.

Tujuan lainnya adalah untuk memberikan masukan mengenai langkah apa saja yang dapat digunakan dalam pengelolaan konflik dan koeksistensi manusia-satwa liar.

Indonesia merupakan salah satu negara “Biodiversity Country” yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi sehingga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar unik dan kharismatik, salah satunya adalah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, koeksistensi atau hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dengan satwa liar sudah menjadi keniscayaan.

Salah satu cara yang dapat diaplikasikan adalah menggunakan pendekatan C2C, atau Conflict to Coexistence, yaitu bagaimana mengubah konflik menjadi sebuah koeksistensi.

“Pendekatan yang holistik dan adaptif ini menerapkan empat prinsip utama, yaitu menjaga toleransi, berbagi tanggung jawab, membangun ketahanan, serta mengedepankan holisme, ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa 9 September 2025.

Dosen Sekolah Pascasarjana Unpak ini menambahkan, untuk membangun dan mewujudkan koeksistensi antara manusia dengan satwa liar yang berkelanjutan diperlukan adanya kondisi kunci dan langkah konkrit.

Antara lain perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan, keterlibatan masyarakat dan pendidikan, adanya manajemen konflik manusia-satwa liar, terwujudnya penghidupan masyarakat yang berkelanjutan, berjalannya penegakan hukum yang tegas, penelitian ilmiah dan pemantauan secara reguler.

“Kolaborasi dan kemitraan multi pihak, serta adanya kebijakan yang mendukung di tingkat pusat dan daerah, adanya komitmen jangka panjang dari para pihak, serta berjalannya pelestarian dan perlindungan habitat satwa liar.”

“Kami percaya bahwa dengan adanya kemauan dan komitmen bersama, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, NGO, masyarakat lokal, serta media, mimpi kita bersama untuk menciptakan lingkungan dimana manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis dapat diwujudkan,” tandanya.

Sementara itu, Direktur Konservasi dan Genetik, Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan RI, Nunu Anugrah menjelaskan bahwa tantangan pelestarian orangutan termasuk orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) cukup kompleks dan melibatkan berbagai faktor.

Baik yang disebabkan oleh aktivitas manusia maupun perubahan alam. Beberapa tantangan utamanya adalah fragmentasi dan menyempitnya habitat, perburuan dan perdagangan ilegal, isolasi populasi dan risiko genetik penyakit, kesadaran dan Pendidikan, serta konflik dengan manusia.

“Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Indonesia telah melindungi orangutan tapanuli secara hukum melalui Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, dan berbagai inisiatif telah dilaksanakan untuk mendorong koeksistensi antara manusia dan orangutan Tapanuli.

Seperti restorasi habitat, perlindungan serta pengamanan populasi dan habitat orangutan, rehabilitasi orangutan karena jumlah populasinya yang rendah, perlindungan intensif pada kantong-kantong habitat orangutan, pengawasan dan penegakan hukum, serta penyadartahuan dan edukasi publik”, tegas Nunu.

Sekedar diketahui, Belantara Foundation bekerja sama dengan PT. Agincourt Resources, Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Unpak dan LPPM Unpak menyelenggarakan kegiatan Belantara Learning Series Episode 13, dengan tema “Peluang Koeksistensi Dalam Upaya Konservasi Orangutan Tapanuli” pada Kamis, 4 September 2025.

Kegiatan ini secara luring dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Unpak. Sedangkan daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube Belantara Foundation.

Lebih dari 780 peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut.

Kegiatan ini juga didukung oleh Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA) dan Pusat Riset Primata Universitas Nasional serta menggandeng enam universitas sebagai kolaborator yang mengadakan acara “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.13 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas.

Enam universitas tersebut yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Nusa Bangsa dan Universitas Tanjungpura.(rur)

Editor : Alpin.
#orangutan #satwa liar #UNPAK Bogor