Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hidup dari Barang Bekas, Kisah Pedagang Jalan Merdeka Bertahan di Tengah Kota Bogor

Fikri Rahmat Utama • Rabu, 10 September 2025 | 17:33 WIB
Suasana lapak barang bekas di Jalan Merdeka, Kota Bogor, yang setiap hari ramai jadi tujuan warga berburu barang murah.
Suasana lapak barang bekas di Jalan Merdeka, Kota Bogor, yang setiap hari ramai jadi tujuan warga berburu barang murah.

RADAR BOGOR – Puluhan pedagang barang bekas setiap hari menggelar lapak di Jalan Merdeka, Kota Bogor.

Dari buku murah hingga handphone dan barang antik, semuanya dijual. Mereka sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari barang bekas.

Di sepanjang Jalan Merdeka, Bogor Tengah tepat di depan SPBG, deretan lapak barang bekas berjajar rapi.

Sedikitnya ada 20–30 pedagang yang setiap hari menggelar dagangan. Kawasan ini sudah lama dikenal warga Bogor sebagai “pasar loak” yang jadi tujuan berburu barang murah.

Barang yang dijual beragam. Mulai dari buku, pakaian, peralatan dapur, blender, kompor, hingga handphone dan barang elektronik.

Tak jarang ada barang antik yang menarik perhatian kolektor. Harga pun bervariasi, dari Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Di antara mereka, ada dua nama yang sudah akrab di kalangan pembeli: Abas dan Toha. Keduanya punya kisah berbeda, namun sama-sama menggantungkan hidup dari barang bekas.

Empat tahun terakhir, Abas memilih menetap membuka lapak di Jalan Merdeka. Sebelumnya, ia berjualan keliling bahkan sempat merantau ke Jakarta.

“Dulu saya tinggal di Senen. Hampir semua pedagang gerobak di sana kenal saya,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 10 September 2025.

Di lapaknya, barang bekas yang dijual beragam. Buku, blender, pakaian, kompor, handphone, sampai barang antik.

Harga mulai dari Rp5.000 untuk buku bekas hingga ratusan ribu rupiah. Untuk ponsel, biasanya ia banderol Rp500 ribu–Rp750 ribu, tergantung kondisi dan bisa dinego.

Pengalaman paling menguntungkan bagi Abas terjadi saat ia menjual tiga kompor lengkap dengan selang dan regulator. Modal tak sampai Rp200 ribu, tapi terjual Rp740 ribu.

“Kalau pembeli tidak cocok, bisa ditukar barang lain. Tapi uang tidak bisa kembali,” jelasnya soal sistem dagang.

Rata-rata ia mendapat Rp40 ribu–Rp50 ribu per hari. Jika ramai, penghasilan bisa tembus Rp200 ribu lebih. Namun ada juga masa sepi hingga empat hari tanpa pemasukan.

“Saya jualan tanpa libur, termasuk Lebaran. Biasanya mulai jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Kalau ramai bisa sampai sore,” katanya.

Abas tinggal di kawasan Kemang. Baginya, jualan barang bekas di Jalan Merdeka lebih tenang dibanding keliling. Dahulu jual beli lebih ramai dibanding sekarang.

"Tapi prinsip saya jangan mempersulit pembeli. Kalau mereka senang, pasti kembali belanja,” ujarnya.

Berbeda dengan Abas, Toha sudah lebih lama. Sekitar sepuluh tahun ia bertahan di Jalan Merdeka.

“Barang yang dijual macam-macam. Yang penting masih layak pakai. Kadang ada juga barang antik yang dicari kolektor,” katanya.

Harga barang yang ia tawarkan juga bervariasi. Dari buku seharga Rp5.000, peralatan rumah tangga, hingga barang yang bisa tembus ratusan ribu rupiah.

Barang-barang itu biasanya ia dapat dari orang yang ingin menjual cepat. Toha membeli, lalu menjual kembali dengan harga lebih tinggi.

Menurutnya, berdagang barang bekas itu soal keberuntungan. “Kadang dapat barang bagus yang laku mahal, kadang sepi sama sekali. Tapi hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Bagi Abas dan Toha, berdagang di Jalan Merdeka adalah pilihan untuk bertahan hidup di tengah kota.

Meski pasar barang bekas tidak seramai dulu, lapak mereka tetap jadi tempat orang berburu barang murah atau mencari benda unik.

“Yang penting tetap sabar dan tidak mempersulit pembeli. Kalau rezeki, pasti ada jalannya,” tutup Toha. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #barang bekas #Jalan Merdeka