RADAR BOGOR – Sekumpulan tim peneliti menggali kembali asal usul Prasasti Nyalindung. Mereka mengonfirmasi keberadaan prasasti melalui laporan kolonial Belanda 1934 yang tercatat dalam Jaarboek Bataviasche Genootschap.
Prasasti Nyalindung itu kini menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris D.153.
Ketua Tim Riset Muhamad Alnoza mengatakan lokasi Prasasti Nyalindung diperkirakan sekitar 1,5 kilometer dari Mata Air Kota Batu, kawasan yang kini dikenal sebagai Nyalindung, Desa Sukamantri, Kabupaten Bogor.
“Kami yakin lokasinya di Nyalindung berdasarkan deskripsi laporan kolonial yang menyebut prasasti berada di tengah sawah,” kata Alnoza beberapa waktu lalu.
Dugaan awal prasasti ini memiliki delapan baris aksara. Ini diketahui hasil pemindaian digital yang membantu memperjelas bentuk aksara sehingga beberapa huruf dapat dibaca.
Alnoza menduga aksara itu Sunda atau Jawa Kuna dan berasal dari periode setelah abad ke-11, masa Kerajaan Sunda atau Pajajaran. Namun, isi lengkap prasasti belum diketahui akibat kondisi yang sulit terbaca.
Prasasti itu sendiri dilaporkan ditemukan pada 1934 oleh Steinmann, Kepala Laboratorium Teh pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelahnya prasasti Nyalindung sempat hilang dari perbincangan sejarah Bogor.
“Pada Mei 1993, dalam Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran di Universitas Pakuan, Dr. Hasan Djafar mewartakan kembali prasasti itu berada di Museum Nasional,” jelas Alnoza.
Selain prasasti, tim riset menemukan saluran air kuno dan benteng batu di sekitar lokasi. Warga menyebut teknik penyusunan batu tanpa semen itu sebagai ngabalai, pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.
“Kawasan Nyalindung kemungkinan sudah dihuni sejak lama dan menjadi penyangga Pakuan Pajajaran. Mata air dan kesuburan tanah membuat daerah ini strategis,” ujar Alnoza.
Tim riset terdiri dari peneliti Bujangga Manik Society, Bogor Historia, Niskala Institut, Halimun Salaka, serta tenaga ahli cagar budaya.
Mereka meneliti selama seminggu di bulan Agustus menulusuri perbatasan Kota dan Kabupaten Bogor yaitu Lembur Sawah, Lemah Duhur, Cibereum, Nyalindung, dan Kota Batu.
Eko Hadi dari Bogor Historia menegaskan pentingnya dukungan pemerintah agar prasasti ini tidak terlupakan. Apalagi status Prasasti Nyalindung sebagai salah satu dari sedikit prasasti di Bogor.
"Ini bisa menjadi prasasti penting sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus,” ungkapnya.
Mereka berencana menyerahkan laporan lengkap kepada Pemkot Bogor dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Hal tersebut agat kawasan ini dilindungi dan dapat diteliti lebih lanjut. (uma)
Editor : Yosep Awaludin