RADAR BOGOR - Warga Kota Bogor diimbau tidak perlu panik menyusul serangkaian gempa bumi skala kecil yang guncangannya terasa hingga ke wilayah kota.
Meski pusat gempa berada di Sukabumi, getaran yang terus berulang membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor meminta masyarakat untuk tetap tenang namun siaga.
Hingga Minggu (21/9) sore, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 40 gempa telah terjadi sejak Sabtu 20 September malam.
Rangkaian gempa ini terdiri dari satu gempa utama berkekuatan Magnitudo 4,0 dan 39 gempa susulan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, menjelaskan pihaknya terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD Provinsi.
Berdasarkan rilis BMKG, gempa tercatat mengalami getaran dengan skala MMI sekitar II.
“Kami perlu mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Sebenarnya pusat gempa tidak berada di Bogor, tapi sekitar wilayah Sukabumi," jelasnya kepada Radar Bogor, Minggu 21 September 2025.
Dimas menambahkan, meski getaran masih tergolong ringan dan belum menimbulkan laporan kerusakan signifikan, langkah-langkah kesiapsiagaan terus ditingkatkan. Dia memastikan masyarakat akan terus diinformasikan bila terdapat informasi terbaru.
“Sejauh ini, hingga sore ini, belum ada laporan dampak signifikan. Namun, kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan membuat perencanaan kesiapsiagaan,” tegasnya.
Koordinasi dengan berbagai sektor dan aparat kewilayahan terus dilakukan. Masyarakat pun diminta segera melapor jika merasakan dampak atau menemukan adanya kerusakan akibat gempa.
“Imbauan kami kepada masyarakat: tetap tenang, waspada, dan mengikuti instruksi resmi. Kesiapsiagaan adalah kunci menghadapi segala kemungkinan, meski potensi kerusakan saat ini rendah,” imbaunya.
BPBD Kota Bogor dan BMKG sendiri mengandalkan sejumlah teknologi canggih untuk mendeteksi dan memberi peringatan dini gempa.
Di beberapa titik, termasuk kantor BPBD, telah terpasang alat sensor Intensitymeter REIS yang berfungsi merekam data intensitas guncangan secara presisi.
Data dari sensor ini kemudian diolah oleh sistem peringatan dini gempa (InaEEWS) dan ditampilkan melalui perangkat Warning Display CUBE.
Alat ini dirancang untuk memberikan peringatan beberapa detik sebelum guncangan tiba, lengkap dengan estimasi skala MMI dan hitung mundur.
Skala MMI inilah yang menjadi acuan untuk memahami dampak gempa.
Skala II yang dirasakan di Bogor berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Sukabumi, Agung Saptaji, memaparkan analisis teknis terkait sumber gempa.
Menurutnya, gempa utama terjadi pada Sabtu pukul 23.47 WIB kemarin malam dengan pusat di darat, 26 km timur laut Kabupaten Sukabumi pada kedalaman 7 km.
“Gempa ini termasuk dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Namun, belum diketahui sesar aktif mana yang menjadi penyebabnya,” katanya.
BMKG mencatat klaster episenter gempa berada di perbatasan antara Kecamatan Kabandungan, Sukabumi, dan Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Pola ini, lanjutnya, menunjukkan aktivitas tektonik di wilayah tersebut masih aktif.
“Daerah ini memang berulang kali mengalami gempa swarm (serangkaian gempa kecil di area spesifik). Pada 2019 dan Desember 2023 juga terjadi rangkaian gempa serupa di lokasi yang berdekatan,” pungkasnya. (Uma)