RADAR BOGOR – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pakuan memaparkan hasil penelitian valuasi keberadaan (existence valuation) Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor.
Acara rilis hasil penelitian digelar Rabu, 24 September 2025 di Ruang Seminar Lt.1 Gedung Akuntansi, Universitas Pakuan Kota Bogor.
Penelitian menemukan nilai manfaat total Perumda Tirta Pakuan mencapai Rp1,94 triliun. Nilai itu mencakup nilai ekonomi perusahaan Rp496,22 miliar, manfaat sosial Rp1,417 triliun, dan manfaat lingkungan Rp26,56 miliar.
Hasil ini menjadi pijakan penting bagi pergeseran paradigma valuasi BUMD. Tidak hanya fokus pada profit, tetapi juga pada benefit atau dampak sosial dan lingkungan bagi masyarakat.
Dekan FEB Universitas Pakuan, Towaf Totok Irawan, menjelaskan kajian dilakukan dengan pendekatan total economic value pada periode 2018/2019–2023/2024. Kajian menilai tiga aspek sekaligus: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Kontribusi Perumda Tirta Pakuan terhadap perekonomian wilayah mencapai Rp103,54 miliar per tahun, angka itu berasal dari belanja 658 pegawai beserta 2.632 anggota keluarganya Rp80,63 miliar per tahun dan dividen untuk pemerintah daerah Rp22,91 miliar per tahun,” kata Towaf.
Hasil analisis menunjukkan 91,09 persen pendapatan perusahaan berasal dari penjualan air. Tarif air menjadi faktor paling sensitif yang menentukan kinerja keuangan. Simulasi ideal menunjukkan pada 2029 cakupan layanan mendekati 100 persen dengan rasio pendapatan terhadap biaya 1,35 serta surplus air baku lebih dari 10 juta meter kubik per tahun.
Towaf juga memaparkan sejumlah rekomendasi strategis dan ia meminta Pemkot Bogor segera menerbitkan regulasi pembatasan penggunaan air tanah untuk mencegah kerusakan lingkungan.
"Perumda Tirta Pakuan disarankan mengajukan skema penyesuaian tarif yang fleksibel dan berkala, memperluas investasi pada bisnis inti, dan melakukan diversifikasi usaha," jelasnya.
Diversifikasi itu mencakup pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL/WWTP), penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, produksi air minum dalam kemasan (AMDK), serta pengembangan pariwisata berbasis sumber daya air.
“Langkah-langkah ini penting karena hingga 2029 masih terdapat surplus ketersediaan air baku lebih dari 10 juta meter kubik per tahun,” jelasnya.
Menanggapi hal itu, Direktur Umum Perumda Tirta Pakuan, Rivelino Rizky, menyambut baik hasil penelitian ini dan menegaskan perusahaan akan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan.
“Melayani air bersih adalah tugas penting, walaupun disebut air minum, kami tetap harus menghadapi tantangan agar air yang disalurkan benar-benar layak diminum, di beberapa wilayah, terutama Mulyaharja, kami sudah menyiapkan layanan air siap minum,” kata Rivelino.
Ia menambahkan, dua puluh tahun lalu saat dirinya baru bergabung, air kemasan masih dibeli untuk konsumsi. Kini masyarakat bisa menikmati air siap minum langsung dari layanan Perumda.
“Valuasi ini menggambarkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Hasil penelitian menjadi acuan kami mengembangkan layanan agar manfaatnya semakin luas,” ujarnya. (uma)