Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ratusan Kali Gelar Pasar Murah, Upaya Pemkot Bogor Tekan Inflasi Berdampak Nyata

Fikri Rahmat Utama • Senin, 29 September 2025 | 09:43 WIB
Warga antusias memanfaatkan Gerakan Pangan Murah yang digelar Pemkot Bogor. Komoditas pokok dijual dengan harga di bawah pasar agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Warga antusias memanfaatkan Gerakan Pangan Murah yang digelar Pemkot Bogor. Komoditas pokok dijual dengan harga di bawah pasar agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

RADAR BOGOR – Warga Kota Bogor bisa sedikit bernapas lega di tengah tren kenaikan harga. Upaya masif Pemkot Bogor mengendalikan harga kebutuhan pokok melalui berbagai intervensi pasar mulai menunjukkan dampak nyata.

Pada Agustus 2025, Pemkot Bogor mencatat deflasi atau penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month).

Capaian Pemkot Bogor ini menjadi perkembangan positif yang menunjukkan efektivitas strategi pengendalian inflasi daerah.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bogor, Dewi Kurniasari, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja konsisten dan terencana.

Hingga Agustus 2025, Pemkot Bogor telah melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 41 kali dan kegiatan Pasar Murah sebanyak 137 kali di berbagai wilayah.

“Deflasi ini merupakan hasil dari berbagai program intervensi pasar yang kami gencarkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” ujar Dewi, Senin 29 September 2025.

Faktor utama deflasi Agustus 2025 adalah penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini secara keseluruhan memberikan andil deflasi sebesar 0,17 persen.

Menurut Dewi, sejumlah komoditas pangan yang biasanya bergejolak justru turun cukup signifikan.

Komoditas penyumbang utama deflasi adalah cabai rawit dengan andil -0,09 persen, diikuti tomat sebesar -0,04 persen, dan telur ayam ras -0,04 persen.

"Selain itu, cabai merah dan bawang putih juga turun harga dengan andil masing-masing -0,03 persen,” jelasnya.

Harga bahan bakar jenis bensin juga ikut memberikan andil deflasi sebesar -0,01 persen. Sementara itu, beberapa komoditas seperti beras, pepaya, dan bawang merah memang mengalami kenaikan harga bulanan, namun tidak cukup kuat menahan laju deflasi.

Meski data bulanan menunjukkan hasil positif, Dewi mengingatkan tantangan inflasi jangka panjang tetap perlu diwaspadai.

Secara tahunan (year-on-year), Pemkot Bogor masih mencatat inflasi 2,38 persen per Agustus 2025. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding inflasi nasional (2,31 persen) dan Provinsi Jawa Barat (1,77 persen).

“Berbeda dengan data bulanan, penggerak inflasi tahunan datang dari komoditas yang berbeda. Ini menunjukkan adanya tekanan harga yang lebih struktural dalam setahun terakhir,” ujarnya.

Berdasarkan data tahunan, penyumbang inflasi terbesar adalah emas perhiasan dengan andil 0,44 persen.

Diikuti bawang merah 0,33 persen, biaya kontrak rumah 0,14 persen, serta minyak goreng dan beras yang masing-masing menyumbang 0,10 persen.

Kenaikan upah asisten rumah tangga dan harga rokok juga turut menambah tekanan inflasi tahunan.

“Keberhasilan menekan inflasi bulanan akan kami jadikan momentum, sementara data inflasi tahunan menjadi bahan evaluasi untuk merumuskan kebijakan yang lebih strategis ke depan, terutama untuk komoditas-komoditas penyumbang inflasi jangka panjang,” pungkasnya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#indeks harga konsumen #inflasi daerah #pemkot bogor