RADAR BOGOR - Perubahan cuaca ekstrem yang menandai musim pancaroba di Kota Bogor berdampak langsung pada kondisi kesehatan masyarakat. Hal ini tercermin dari lonjakan kunjungan pasien di RSUD Kota Bogor kasus-kasus penyakit yang dipicu oleh faktor cuaca mendominasi, terutama di layanan rawat inap.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Kota Bogor, dr. Andy Aprianto, membenarkan tren peningkatan pasien sangat erat kaitannya dengan kondisi cuaca. Menurutnya, masa pergantian musim menjadi periode rentan penyebaran virus dan bakteri.
“Penyebab lonjakan pasien ini biasanya karena faktor cuaca atau pergantian musim. Peningkatan penyakit tertentu biasanya terjadi saat awal musim hujan,” ujarnya saat dikonfirmasi Radar Bogor, Rabu, 1 Oktober 2025.
Ia merinci, dampak paling signifikan terlihat pada kasus-kasus yang memerlukan perawatan intensif di ruang rawat inap.
Dari total 19.528 pasien rawat inap yang ditangani hingga Agustus 2025, diagnosa anemia dan diare menjadi yang paling menonjol.
“Untuk rawat inap, penyakit yang paling banyak adalah anemia, kemudian diare, dan dehidrasi,” jelas dr. Andy.
Menurutnya, banyak pasien diare, terutama anak-anak, baru dibawa ke rumah sakit ketika kondisinya sudah cukup parah dan mendekati dehidrasi.
“Untuk usia, anak-anak memang sering masuk karena diare dan demam,” tambah dr. Andy.
Selain di rawat inap, lonjakan pasien akibat dampak cuaca juga sangat terasa di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Penyakit seperti demam (febris), Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), dan gangguan pencernaan menjadi keluhan utama yang membawa warga ke IGD.
Secara keseluruhan, RSUD Kota Bogor telah melayani 268.752 pasien sepanjang delapan bulan pertama 2025.
Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga daya tahan tubuh dan waspada terhadap penyakit musiman di tengah cuaca yang tidak menentu. (uma)