RADAR BOGOR - Seluruh SPPG di Kota Bogor diminta untuk menjalin kolaborasi dengan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Langkah kolaborasi SPPG ini dinilai penting untuk mendorong kemandirian pangan lokal.
Permintaan itu disamapaikan langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim.
Dia menyebut tiap-tiap SPPG idealnya memasok kebutuhan menu MBG dari pangan-pangan lokal.
“Iyah, Idealnya semua KWT dengan SPPG menjalin komunikasi intens agar kebutuhan pasokan dapat dipenuhi dari sumber lokal,” terang Dedie.
Dedie menerangkan kolobarasi tersebut harus bisa sampai pada persoalan teknis. Misalnya kepastian jumlah pasokan pangan serta kualitas pangan yang mesti disediakan oleh KWT.
“Yang paling penting juga adalah kepastian jumlah dan kualitas standard yang dibutuhkan bisa disediakan KWT,” ujar Dedie saat dihubungi Radar Bogor, Minggu 4 Oktober 2025 siang.
Secara birokrasi pemerintahan, Dedie mengaku telah mendorong skema kolaborasi tersebut dengan para lurah dan camat. Namun Badan Gizi Nasional (BGN) bisa juga ikut terlibat untuk menodrong para SPPG nya.
“Lurah dan camat sudah saya minta koordinasikan. Agar semakin kuat, sebaiknya Disini perlu juga agar BGN mendorong kolaborasi ini,” pungkasnya
Jumlah SPPG di Kota Bogor sendiri terus bertambah. Saat ini tercatat sudah ada 34 yang sudah beroprasi.
Mereka kian massif mendistribusikan menu MBG ke para penerima manfaat.
Sebanyak 34 SPPG di Kota Bogor itu sudah tersebar di enam kecamatan yang ada di Kota Bogor.
Tiap harinya, masing-masing mendistribusikan lebih kurang 3.000 menu MBG.
Sebaran jumlah SPPG itu diantaranya, 5 dapur berada di Kecamatan Bogor Tengah. Kemudian 9 SPPG di Kecamatan Bogor Utara. Sepuluh dapur berada di Bogor Barat.
Berikutnya tiga dapur di Kecamatan Bogor Timur, 7 dapur di Kecamatan Tanah Sareal dan 3 SPPG lainnya berada di Kecamatan Bogor Selatan. Mereka mendistribusikan ke siswa, ibu hamil dan Balita.(rp1)
Editor : Alpin.