Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Air Tak Layak Picu Risiko Penyakit, Semua Dapur MBG di Kota Bogor Didorong Gunakan PDAM

Fikri Rahmat Utama • Senin, 6 Oktober 2025 | 15:50 WIB
Diskusi bertajuk “Kualitas Air yang Baik Mendukung Program MBG Mencetak Generasi Cerdas Menuju Indonesia Emas” yang digelar di New Mirah Hotel.
Diskusi bertajuk “Kualitas Air yang Baik Mendukung Program MBG Mencetak Generasi Cerdas Menuju Indonesia Emas” yang digelar di New Mirah Hotel.

RADAR BOGOR – Penggunaan air bersih menjadi salah satu sorotan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor.

Untuk menjamin higienitas makanan dan kesehatan para siswa, seluruh dapur penyedia makanan MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) didorong untuk menggunakan air dari Perumda Tirta Pakuan.

Pernyataan ini ditegaskan dalam diskusi bertajuk “Kualitas Air yang Baik Mendukung Program MBG Mencetak Generasi Cerdas Menuju Indonesia Emas” yang digelar di New Mirah Hotel, Senin 6 Oktober 2025.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas sektor antara Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Dinas Kesehatan, Kodim 0606/Kota Bogor, dan Badan Gizi Nasional (BGN).

Diskusi tersebut menyoroti pentingnya peran air bersih dalam memastikan kualitas dan keamanan makanan yang disajikan kepada siswa penerima program MBG.

Air yang layak tidak hanya dibutuhkan untuk memasak, tetapi juga untuk mencuci bahan makanan dan peralatan dapur agar terbebas dari risiko kontaminasi.

Direktur Umum Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rivelino Rizky, menyampaikan pihaknya merasa bertanggung jawab untuk membantu memastikan kualitas air yang digunakan di seluruh SPPG.

“Kami melakukan sosialisasi terkait kualitas air yang baik dari masing-masing SPPG. Saat ini di Kota Bogor sedang tumbuh banyak SPPG, dan kami ingin memastikan air yang mereka gunakan benar-benar berkualitas,” ujarnya.

Rivelino menambahkan, di beberapa daerah ditemukan permasalahan air yang mempengaruhi kebersihan dan kesehatan makanan.

Karena itu, Tirta Pakuan siap berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan, Kodim, dan pengelola SPPG untuk mencegah hal serupa terjadi di Bogor.

Ia juga menjelaskan, pihaknya menurunkan tarif langganan bagi SPPG agar lebih terjangkau.

Untuk golongan niaga 1, biaya yang tadinya di atas dua hingga tiga juta kini menjadi sekitar Rp1.7 jutaan.

"Dari 35 SPPG yang ada, 31 sudah menggunakan air PDAM dan hanya 4 yang masih menggunakan sumur. Ke depan, semuanya akan diarahkan menggunakan PDAM,” katanya.

Menurutnya, penggunaan air PDAM menjadi bagian dari upaya kolaboratif mewujudkan kualitas air yang baik demi mencetak generasi cerdas menuju Indonesia Emas 2045.

Direktur Teknik Perumda Tirta Pakuan, Ardani Yusuf, menegaskan air PDAM Kota Bogor telah memenuhi standar kesehatan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan.

“Air kami memiliki pH antara 6,5 sampai 8,5 dan tingkat kekeruhan (NTU) di bawah 3, sesuai standar Permenkes. Artinya, air dari Perumda Tirta Pakuan sudah memenuhi syarat sebagai air layak konsumsi,” jelasnya.

Ardani menambahkan, pihaknya akan menambah instrumen critical point di setiap lokasi SPPG agar kualitas air dapat dipantau secara real time. Dengan sistem ini, mereka bisa mengontrol kualitas air selama 24 jam.

"Ini menjadi bagian dari dukungan kami terhadap program MBG dalam lima tahun ke depan,” ujarnya.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Badan Gizi Nasional (BGN) Bogor, Haidir, menyambut baik inisiatif Tirta Pakuan dalam memastikan higienitas dapur MBG. Ia menegaskan, sinergi antarlembaga merupakan kunci keberhasilan program MBG.

“Program MBG akan sukses kalau semua pihak bergerak bersama. Perumda Tirta Pakuan sudah sangat tepat mengambil peran memastikan air yang digunakan di dapur-dapur MBG higienis,” ujar Haidir.

Dari total 45 SPPG yang sudah beroperasi dan akan beroperasi di Kota Bogor, sebanyak 34 sudah menggunakan air PDAM, sementara 11 lainnya masih memakai air tanah.

“Air tanah memang terlihat bersih secara fisik, tetapi rentan dari sisi higienitas. Karena itu, kami akan terus mendorong agar semua SPPG menggunakan air dari PDAM,” jelasnya.

Haidir juga mengingatkan risiko besar yang dihadapi dapur MBG jika tetap menggunakan air yang tidak layak. Kalau sampai ada kasus keracunan makanan, pemerintah akan memberikan tindakan tegas berupa penutupan dapur.

"Karena itu, higienitas harus dijaga ketat, termasuk dari sumber air yang digunakan,” tegasnya.

Diskusi ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran para pengelola dapur MBG terhadap pentingnya kualitas air dalam mendukung gizi anak-anak sekolah. (uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #dapur MBG #air pdam