Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Film Mama Jo dan Karaja Sumba Buka Dialog Budaya Indonesia Australia Lewat Film Dokumenter

Muhammad Ali • Jumat, 10 Oktober 2025 | 17:16 WIB
Sutradara asal Bogor, Ineu Rahmawati, memperkenalkan film dokumenter Mama Jo dan Karaja Sumba dalam ajang Screen It International Film Festival 2025 di Australia.
Sutradara asal Bogor, Ineu Rahmawati, memperkenalkan film dokumenter Mama Jo dan Karaja Sumba dalam ajang Screen It International Film Festival 2025 di Australia.

RADAR BOGOR - Sutradara asal Bogor, Ineu Rahmawati, kembali menorehkan prestasi di kancah internasional lewat film dokumenter karyanya berjudul Mama Jo.

Ya, Film Mama Jo berhasil masuk sebagai salah satu dari 50 film terbaik hasil kurasi Screen It International Film Festival di Australia yang digelar pada 22–23 Agustus 2025.

Film Mama Jo bercerita tentang realitas kehidupan seorang ibu yang merawat anaknya yang menderita Cerebral Palsy.

Karya ini mengangkat sisi kemanusiaan dan perjuangan dalam menghadapi keterbatasan dengan penuh kasih dan keteguhan hati.

Festival film yang diikuti Ineu ini menjadi wadah bagi sineas dunia untuk menampilkan karya bertema inklusi sosial.

Screen It International Film Festival mendukung dan mempromosikan inklusi sosial bagi penyandang disabilitas melalui partisipasi mereka dalam acara budaya dalam peran apa pun.

"Baik sebagai aktor, sutradara, relawan, atau sekadar penonton dalam lingkup global," tutur Ineu secara tertulis kepada Radar Bogor, Jum'at 10 Oktober 2025.

Selain mengikuti festival, Ineu juga berkesempatan mempresentasikan dua filmnya, Mama Jo dan karya terbarunya Karaja Sumba, dalam forum diskusi bersama mahasiswa dan akademisi di Universitas Queensland, Australia.

Acara ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Queensland (PPIAQ) dan Eagle Institute Indonesia, yang membuka ruang dialog antarbudaya antara Indonesia dan Australia.

Melalui forum ini, kedua negara saling belajar tentang bagaimana menghadapi tantangan terkait isu disabilitas, pelestarian budaya, dan pemberdayaan perempuan.

“Saya berharap ada kerja sama lanjutan antara pelajar di Universitas Queensland dengan filmmaker Indonesia,” ujarnya.

Bagi Ineu, yang berasal dari Citeureup, Kabupaten Bogor, kesempatan ini menjadi kebanggaan tersendiri.

Ia menilai karya film dokumenter dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal Indonesia ke dunia internasional.

Tak hanya berhenti pada forum diskusi, Ineu dan tim juga berkesempatan menghadiri acara tahunan Indoday 2025 yang digelar oleh mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland. Tahun ini, acara tersebut mengusung pertunjukan teatrikal bertajuk “Nusantara: A Tale of Gaia”.

Pertunjukan itu mengisahkan tentang Nusantara dengan kekayaan budaya, sejarah, dan masyarakatnya yang dikemas dengan unsur mitologis melalui sosok Gaia, dewi alam dan bumi.

Nusantara: A Tale of Gaia tidak hanya menjadi ajang seni, tetapi juga seruan untuk kembali memahami identitas Nusantara sebagai wilayah yang kaya akan nilai-nilai kebijaksanaan dan kebersamaan.

Seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya dari Bogor, kepada dunia internasional melalui media film dokumenter.

“Melalui karya dan dialog lintas budaya, diharapkan lahir kolaborasi baru yang dapat memperkuat hubungan antarbangsa serta memperluas pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan dan inklusi sosial,” pungkas Ineu. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #film dokumentar #Mama Jo