Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tingkatkan Kompetensi Dokter, IDI Kota Bogor Gelar Simposium dan Workshop Bahas Teknologi Stem Cell untuk Penyembuhan Penyakit

Fikri Rahmat Utama • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 16:36 WIB
IDI Cabang Kota Bogor kembali menggelar kegiatan ilmiah berupa Simposium dan Workshop bertajuk Teknologi Stem Cell, Sekretom, dan Eksosom pada Penyakit Kolegium.
IDI Cabang Kota Bogor kembali menggelar kegiatan ilmiah berupa Simposium dan Workshop bertajuk Teknologi Stem Cell, Sekretom, dan Eksosom pada Penyakit Kolegium.

RADAR BOGOR - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Bogor kembali menggelar kegiatan ilmiah berupa Simposium dan Workshop bertajuk “Teknologi Stem Cell, Sekretom, dan Eksosom pada Penyakit Kolegium” di Hotel Amaris Pajajaran, Kota Bogor, Sabtu, 11 Oktober 2025.

Kegiatan ini menjadi wadah para dokter memperdalam pemahaman tentang perkembangan terapi regeneratif yang kini menjadi salah satu arah baru dalam dunia kedokteran modern.

Fokus pembahasan adalah teknologi stem cell (sel punca) dan turunannya—sekretom serta eksosom—yang diterapkan dalam penanganan berbagai penyakit kolegium, terutama di bidang ortopedi, estetika, dan anti-penuaan.

Ketua Panitia, dr. Lia Sari Utami Dewi, menjelaskan kegiatan ini bersifat holistik karena memadukan teori dan praktik langsung, agar teori yang diberikan bisa diketahui secara langsung pengaplikasiannya.

“Hari ini bukan hanya simposium, tapi juga workshop, jadi peserta tidak hanya mendengar teori, tapi juga ikut melihat dan memahami praktik aplikatif di lapangan,” ujarnya.

Menurut dr. Lia, terapi regeneratif menjadi masa depan dunia medis karena memanfaatkan kemampuan sel tubuh manusia untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Acara ini pun memberikan overview atau gambaran umum bagi dokter yang masih awam tentang apa itu terapi stem cell, sekretom, dan eksosom.

"Teknologi ini sudah nyata, bukan lagi sekadar riset. Itu yang coba kita paparkan dalam acara ini,” tambah dr. Lia.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara ahli di bidangnya, yaitu Dr. dr. Indra Kusuma, M.Biomed, Kepala Pusat Penelitian Stem Cell Universitas YARSI; dr. Petersem Sidabutar, Sp.OT (K), Konsultan Ortopedi RS Siloam Bogor; dan dr. Ima Rosaliña, praktisi estetika dan anti-aging medicine.

Dokter Lia menjelaskan, kegiatan ilmiah ini juga merupakan bagian dari Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) IDI.

Melalui program tersebut, para dokter didorong terus meningkatkan kompetensinya, terutama dalam memahami teknologi medis baru yang kini menjadi fokus banyak penelitian internasional.

“Pengobatan tidak lagi sebatas menggunakan obat kimia atau tindakan operasi, dengan terapi berbasis sel, tubuh kita sendiri bisa menjadi sumber penyembuhan,” ujar Lia.

Pada kesempatan yang sama, Ketua IDI Cabang Kota Bogor, dr. Armein Sjuhary Rowi, menambahkan, teknologi stem cell dan turunannya kini menjadi salah satu bidang paling progresif dalam dunia kedokteran. Menurutnya, terapi ini berpotensi besar dalam memperbaiki jaringan tubuh, mengurangi peradangan, serta meningkatkan fungsi organ.

“Melihat perkembangan pesat serta perlunya pemahaman komprehensif tentang produk dan penggunaannya di praktik klinis, IDI Cabang Kota Bogor mengadakan kegiatan ini,” jelas Armein.

Ia menegaskan, dokter masa kini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu cepat. Dokter yang baik bukan hanya yang banyak pasiennya, tetapi juga yang terus memperbarui ilmunya dan memahami kebutuhan pasien secara lebih luas.

"Tujuan akhirnya bukan sekadar memahami teknologi, tetapi memastikan terapi regeneratif ini bisa diterapkan dengan aman, etis, dan memberi manfaat nyata bagi pasien,” katanya.

Sementara itu dr. Petersem Sidabutar menjelaskan penerapan terapi regeneratif pada bidang ortopedi, dan mencontohkan penggunaan stem cell untuk kasus osteoarthritis atau gangguan sendi yang banyak dialami oleh pasien usia lanjut.

“Tidak semua kasus osteoarthritis harus langsung dioperasi, setelah terapi konservatif dan obat-obatan tidak lagi efektif, terapi stem cell bisa menjadi pilihan alternatif sebelum tindakan pembedahan,” jelasnya.

Menurutnya, terapi stem cell dapat membantu mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi sendi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Efek sampingnya umumnya ringan, seperti nyeri sementara di area suntikan.

"Hingga kini belum ada laporan efek samping berat dalam pengobatan ini,” ujar dr. Petersem.

Ia juga menyoroti pentingnya regulasi dan pengawasan pemerintah seperti yang sudah dipenuhi Rumah Sakit Siloam. Hal ini agar terapi berbasis stem cell tetap aman dan sesuai standar medis.

“Kini, terapi ini sudah memiliki payung hukum di Indonesia, sehingga penggunaannya bisa dilakukan secara klinis dengan prosedur yang ketat,” tambahnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #idi #teknologi stem cell