RADAR BOGOR - Ancaman gempa megathrust mulai mendapat perhatian Pemerintah Kota Bogor. Sebab, guncangan gempa jenis ini disebut-sebut bisa sampai ke wilayah berjuluk kota hujan itu.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengaku sudah sering menerima informasi terkait ancaman megathrust. Oleh karenanya seluruh Pemerintah Kecamatan (pemcam) diminta mulai menyusun peta evakuasi.
“Benar (Membuat Peta Evakuasi). Termasuk memetakan seluruh langkah dan mitigasi bencananya,” jelas Dedie saat dihubungi Radar Bogor, Senin 20 Oktober 2025 sore.
Dalam waktu dekat Dedie menyebut, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan BPBD Kota Bogor untuk membahas titik evakuasi yang tepat. Setelah langkah itu ditempuh pihaknya akan membuat Surat Edaran lanjutan.
Dedie menerangkan, meski Kota Bogor sering menghadapi lebih dari ribuan bencana tiap tahun, namun guncangan megathrust disebutnya tidak bisa dipandang remeh.
“Meskipun Kota Bogor setiap tahun menghadapi lebih dari 1.000 bencana, tidak boleh lengah dengan prediksi resiko gempa megatrhrust dikemudian hari,” beber Dedie.
Masyarakat diminta Dedie juga sudah harus menyiapkan segala perlengkapan darurat.
Termasuk tas kecil yang digunakan untuk mengumpulkan dokumen-dokumen penting.
Untuk langkah awal Pemerintah Kota Bogor sudah membuat tim tanggap bencana.
Langkah ini hasil kolaborasi antara BPBD dan pihak Pemerintah Kelurahan.
“Iyah sementara BPBD sudah menggandeng Kelurahan untuk membentuk Tim Kelurahan Tanggap Bencana. Mereka juga akan kami libatkan untuk membahas mitigasinya,” terang Dedie.
Diinformasikan sebelumnya, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr Daryono menjelaskan megathrust adalah gempa bumi berkekuatan besar. Ini terjadi di zona subduksi lempeng.
“Lempeng samudera menyusup ke lempeng benua. Magnitudo gempa megathrust dapat mencapai di atas M8,0. Ini berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan di wilayah,” terang Daryono.
Daryono menuturkan ada beberapa wilayah yang bakal turut merasakan guncangan tersebut. Salah satunya, Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan DKI Jakarta.
“Seluruh wilayah di Jabar Jateng DKI, Banten Lampung Bengkuku Sumatera Selatan (Sumsel) berikut,” beber Daryono saat dikonfirmasi Radar Bogor.
Warga yang tinggal di wilayah- wilayah tersebut dipandang mesti banyak mendapatkan edukasi dan simulasi bencana. Rencana proyek pembangunan pun harus tahan akan potensi gempa.
Bagi wilayah yang belum mempunya titik aman untuk evakuasi diminta segera untuk mengkajinya. Gempa Megathrust tidak ada yang bisa memprediksi waktu kejadiannya.
“Iya harus mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul dan lokasi aman dari bencana, termasuk potensi tsunami,” jelas Daryono dalam keterangan tertulisnya.
Daryono menerangkan warga pun sudah harus mulai menyiapkan tas siaga. Di dalamnya terdapat beberapa hal.
Salah satunya dokumen-dokumen yang dinilai penting. Menurut catatan BMKG, megathrust pernah terjadi di beberapa negara.
Misalnya Chile pada tahun 1960, saat itu kekuatan gempa mencapai M9,5. Kemudian di Tohaku Jepang pada tahun 2011, saat itu guncangan gempa mencapai M9,0.
Dan terakhir di Indonesia, tepatnya Aceh. Pada tahun 2004 wilayah tersebut diguncang dengan kekuatan M9,2.(bay)