RADAR BOGOR - SMPN 13 Kota Bogor, terus berupaya mewujudkan lingkungan bebas sampah.
SMPN 13 Kota Bogor, yang kini menjadi finalis Bogorku Bersih tengah menggencarkan program Zero Weste.
Program di SMPN 13 Kota Bogor tersebut mulai dijalankan sejak Juli lalu.
Sekolah juga mendapat pendampingan dari WWF agar pengelolaan sampah berjalan lebih optimal dan sejalan dengan visi sekolah yang ramah lingkungan.
“Kami sudah mengelola sampah sendiri, masih dalam proses menuju Zero Waste School. Memang belum sepenuhnya, karena masih ada beberapa jenis sampah yang belum bisa kami kelola,” ujar Humas SMPN 13 Kota Bogor, Teti Suherti.
Pengelolaan sampah di sekolah itu sudah berjalan cukup baik. Sampah daun, misalnya, sudah tak lagi menjadi masalah karena seluruhnya diolah menjadi kompos.
Untuk plastik, sebagian besar dimanfaatkan kembali menjadi kerajinan seperti pot tanaman.
Sedangkan sisanya dijual ke pengumpul sampah agar tidak menumpuk di lingkungan sekolah.
“Sampah daun sudah nol, semuanya kami olah menjadi kompos. Sedangkan plastik yang tidak bisa dimanfaatkan, kami jual ke pengumpul sampah,” kata Teti.
Tak hanya itu, sekolah juga memanfaatkan mesin kompos daun dan alat pemotong ranting hasil dari uang pembinaan lomba Bogorku Bersih tahun lalu.
Produksi komposnya belum dijual karena masih digunakan untuk kebutuhan sekolah sendiri.
Setiap hari, sekolah mengolah sekitar 7 hingga 15 kilogram sampah daun menjadi kompos.
Hasilnya digunakan untuk mengganti media tanam di area taman sekolah.
“Produksi komposnya belum besar, jadi sementara kami pakai sendiri untuk mengganti media tanam di sekolah,” ujarnya.
Selain kompos, sekolah juga aktif mengelola sampah kertas dengan sistem jual ke pengepul.
Sementara sampah residu seperti tisu, pembalut, dan sampah medis tetap dibuang ke TPS karena berkaitan dengan kesehatan.
Untuk kemasan makanan dan minuman, pihak sekolah menerapkan sistem eco-brick.
Setiap kelas memiliki galon bekas yang digunakan untuk menampung potongan kemasan plastik.
“Untuk kemasan jajanan anak-anak, sementara dimasukkan ke eco-brick. Tapi memang masih ada sisa timbulan sampah karena belum semua bisa kami olah sepenuhnya,” jelas Teti.
SMPN 13 juga memiliki satu set aquaponic berisi ikan lele sebagai sarana belajar siswa. Sistem itu dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah organik.
Kadang, sisa makanan dari siswa seperti nasi dijadikan pakan lele. Namun kegiatan itu tidak dilakukan rutin karena jumlahnya tidak selalu tersedia.
“Sistem aquaponic ini lebih ke media pembelajaran. Anak-anak belajar bagaimana memanfaatkan sisa makanan untuk pakan ikan, tapi tidak rutin,” ujar Teti.
Selain menonjol lewat inovasi pengelolaan sampah, momen penilaian Bogorku Bersih di sekolah ini juga meninggalkan kisah menarik. Saat kunjungan juri kehormatan, ada siswa yang menerima donasi sepatu baru.
“Waktu itu juri kehormatan melihat ada siswa yang sepatunya rusak, lalu beliau berinisiatif memberikan sepatu. Setelah kami cari tahu, akhirnya dua siswa menerima bantuan itu,” pungkasnya.(bay)
Editor : Alpin.