Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Waspada! Bogor Selatan dan Bogor Barat Jadi Kecamatan Paling Rawan Bencana di Kota Bogor

Fikri Rahmat Utama • Rabu, 5 November 2025 | 13:23 WIB
Apel Siaga Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Kota Bogor di Mapolresta Bogor Kota.
Apel Siaga Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Kota Bogor di Mapolresta Bogor Kota.

RADAR BOGOR – Dua kecamatan di Kota Bogor ditetapkan sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi.

Masyarakat di Kecamatan Bogor Selatan dan Bogor Barat Kota Bogor pun diminta meningkatkan kewaspadaan jelang puncak musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga Januari 2026.

Hal ini disampaikan langsung Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, usai memimpin Apel Siaga Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Mapolresta Bogor Kota, Rabu 5 November 2025.

"Ya, ada dua kecamatan yang relatif dianggap rawan bencana, yang pertama adalah Bogor Selatan, yang kedua adalah Bogor Barat," ujar Dedie Rachim kepada wartawan.

Dedie menegaskan, kedua kecamatan ini harus segera melakukan langkah antisipasi cepat. Dua kecamatan ini perlu memitigasi, kemudian memetakan, dan juga memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat.

Peringatan ini dikeluarkan sejalan dengan prediksi dari BMKG yang menyebut puncak curah hujan akan berlangsung pada November 2025 hingga Januari 2026.

Dedie menyebut, Kota Bogor telah beberapa kali mengalami hujan ekstrem di atas 130 mm, yang mengkonfirmasi adanya dampak pemanasan global. Dengan catatan lebih dari seribu bencana per tahun, antisipasi menjadi krusial.

"Kejadian hujan ekstrem ini terkait dengan pemanasan global. Jadi ada perubahan cuaca yang mengakibatkan bencana banjir lintasan, banjir longsor, pohon tumbang, dan sebagainya," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Dedie Rachim juga menyoroti penyebab utama bencana, khususnya banjir lintasan.

Ia menyayangkan masih banyak sumbatan sampah akibat ulah warga yang tidak bertanggung jawab.

"Beberapa kejadian banjir lintasan itu diakibatkan oleh tidak bertanggung jawabnya masyarakat membuang sampah. Masuk ke saluran air dan mengakibatkan sumbatan," sesalnya.

"Saya imbau masyarakat mulai dari sekarang lebih peka lah, lebih cinta sama lingkungan," tegas Dedie.

Selain banjir dan longsor di dua kecamatan rawan tersebut, Dedie juga mengimbau warga waspada terhadap ancaman pohon tumbang.

Pemkot, menurutnya, telah mendeteksi 2.100 pohon, dimana 250 di antaranya rawan dan 50 perlu perhatian khusus.

"Saya menghimbau masyarakat jangan berteduh di bawah pohon besar pada saat hujan lebat," pesannya.

Peringatan ini diperkuat data dari BPBD Kota Bogor. Kepala Pelaksana BPBD, Dimas Tiko Prahadisasongko, menyebut kerugian material akibat bencana hidrometeorologi cukup banyak. Contohnya, pohon tumbang tercatat ada 219 kejadian sampai dengan kemarin.

"Ini tidak hanya nutup jalan, tapi juga menimpa rumah warga dan merusak prasarana publik," ungkapnya.

Untungnya dari total sekitar 800-an bencana yang terjadi sepanjang 2025 ini tak ada korban jiwa. Hanya kerugian materil yang ditimbulkan akibat berbagai jenis bencana.

"Sejauh ini, kalau untuk korban jiwa akibat dampak langsung dari potensi bencana (banjir, longsor, dll.), Insya Allah jangan sampai ada di Kota Bogor," jelasnya.

Apel siaga bencana ini sendiri diikuti oleh ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Damkar, Tagana, Pramuka, hingga relawan untuk memastikan sinergitas penanganan. Keterlibatan banyak pihak karena penanganan bencana harus dengan gotong royong. (uma)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #bogor selatan #Bogor Barat